Kamis, 31 Juli 2014

Kronik Rumah Baca: 1 Agustus 2014

Rasa-rasanya sudah lama sekali blog ini tak kunjung saya update. Padatnya kegiatan di penghujung bulan Ramadhan dan kesibukan saat berhari raya Idul Fitri membuat saya perlu sedikit mengendurkan tali kekang dalam menulis beberapa perkembangan terkait pembukaan taman bacaan ini. Padahal ada banyak sekali kejadian yang berlangsung belakangan ini yang tentu saja perlu untuk didokumentasikan. Saya lalu melihat tulisan terakhir yang saya buat di blog ini yang ternyata tertanggal 23 Juli 2014 dimana itu sudah lebih dari 9 hari yang lalu. Oleh karenanya, pada tulisan ini, saya akan mengkronik kejadian-kejadian yang berlanjung sepanjang tanggal 24 Juli sampai dengan saya menulis sekarang.

Hal pertama yang ingin saya tuliskan adalah Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435 Hijriyah. Semoga segala ibadah yang kita tunaikan pada bulan Ramadhan yang telah lewat meningkatkan kualitas ketaqwaan kia di sisi Allah azza wa jalla. Aamiin.

Pada tanggal 24 Juli 2014, sebuah pesan datang ke handphone saya dari seorang kakak kelas bernama Achmad Syaefani. Beliau adalah salah satu pengurus Masjid Shalahuddin di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak yang beberapa waktu lalu saya mintai tolong untuk meneruskan proposal rumah baca ini kepada pengurus masjid. Setelah menunggu beberapa pekan dan sambil berkorespondensi melalui email, alhamdulillah bantuan yang dinanti datang juga. Dana sebesar satu juta rupiah meluncur ke rekening donasi rumah baca yang langsung saya teruskan kepada seorang penjual buku di Surabaya. Saya memang sudah berjanji kepada penjual buku itu bahwa saya akan membayar tagihannya ketika ada bantuan yang masuk ke rekening donasi kami. Maka saat bantuan dari Masjid Shalahuddin datang, saya langsung mentransfer kepada rekeningnya sebesar Rp. 1.093.000 kepadanya.

Saya mengucapkan terima kasih kepada mas Evan (demikian beliau biasa kami panggil) dan menitipkan salam terima kasih pula kepada teman-teman di Masjid Shalahuddin Kantor Pusat DJP atas bantuan dan kepercayaan mereka kepada saya seraya berjanji akan mengirimkan kabar terbaru seputar kegiatan rumah baca ini kelak.

Dua hari kemudian pada tanggal 26 Juli 2014, rumah saya di Jurangmangu kedatangan sebuah paket berupa kardus besar berisi banyak sekali buku. Paket itu adalah buku-buku yang sudah saya beli nyaris dua pekan yang lalu dari seorang penjual buku online bernama Budi. Mas Budi adalah penjual buku bekas yang sangat baik karena telah memberikan saya buku-buku bagus dengan harga sangat miring dan bahkan memberikan beberapa buku bonus kepada saya. Selain itu beliau juga mendoakan dan mensupport kesuksesan rumah baca ini agar kelak.

Pada tanggal 28 Juli 2014, saya membagikan sebuah berita di timeline facebook pribadi saya perihal perkembangan rumah baca ini. Tak seberapa lama, salah seorang teman mereply sharingan tersebut dan menyatakan bahwa beliau bersedia untuk melakukan sesuatu untuk membantu saya. Kami lalu berkorespondesi melalui whatsapp dan mengobrol tentang banyak hal. Yang membuat saya terharu dengan tawaran beliau adalah bahwa beliau siap untuk menjadi donatur tetap rumah baca ini semampu yang beliau bisa. Jujur saja, itu adalah tawaran berupa bantuan rutin pertama yang saya terima dan karenanya membuat saya jadi semakin bersemangat untuk memaksimalkan segala potensi yang ada agar rumah baca ini bisa bermanfaat bagi warga yang ada di sini. Di ujung obrolan kami melalui ujung jemari, beliau mengabarkan bahwa uang sejumlah Rp. 250.000 sudah terkirim ke rekening donasi rumah baca ini. Saya mengucapkan terima kasih kepada beliau dan berjanji untuk mengupdate perkembangan kegiatan rumah baca ini di waktu mendatang.

Pada tanggal ini pula saya berkorespondensi dengan seseorang bernama Windy Pilok. Ia adalah warga Maahas yang pernah menawarkan saya buku-buku tak terpakainya di rumah supaya bisa saya manfaatkan. Kami lalu beberapa kali bertukar pesan dan akhirnya bersepakat akan bertemu di rumahnya di Maahas pada hari Jumat 1 Agustus 2014. Saya lalu datang ke rumahnya dan menerima sekardus buku komik untuk anak-anak dan remaja darinya. Saya juga menawarinya untuk datang berkunjung ke rumah saya di Kilongan untuk melihat-lihat calon rumah baca ini. Oh iya, saya baru ingat, selain Windy, saya juga mendapatkan tiga buah buku dari Awan saat kami melakukan kopi darat Komunitas Luwuk Menulis di Masjid Agung An Nur Luwuk pada tanggal 20 Juli 2014 yang lalu. Di sela-sela obrolan kami yang ngalor-ngidul itu, ia menyerahkan tiga buah buku miliknya kepada saya untuk disalurkan ke rumah baca. Kepada Awan dan Windy saya ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya atas kontribusi mereka yang luar biasa. Semoga buku-buku yang mereka sumbangkan dapat bermanfaat.

Oh iya, pada hari Raya Idul Fitri, saya sempat berkunjung ke rumah Ustadz Iswan Kurnia Hasan dan menanyakan kepada beliau apakah buku-buku saya yang dulu pernah saya lungsurkan ke Perpustakaan MIM bisa saya ambil kembali untuk rumah baca ini, beliau menjawab boleh. Hanya saja beliau minta waktu sampai akhir pekan besok karena ada beberapa keperluan yang harus beliau selesaikan dalam beberapa hari ini. Saya menyetujui permintaan beliau dan mengucapkan terima kasih kepadanya. Sekitar tahun 2010 yang lalu saya memang sempat menyerahkan dua dus buku koleksi saya kepada perpustakaan MIM yang lokasinya ada di lantai 2 rumah beliau. Namun karena tampaknya mengakses perpustakaan itu mengandung keseganan tersendiri, saya merasa perlu membicarakan nasib buku-buku yang pernah saya lungsurkan kesana. Alhamdulillah, Ustadz Iswan adalah orang yang sangat open minded dan beliau menyetujui permintaan saya tersebut.

Dalam beberapa hari belakangan ini, saya dan istri kerap berdiskusi tentang waktu yang tepat untuk melaunching rumah baca ini. Dalam obrolan-obrolan lepas saat beranjang-sana, saya juga disarankan untuk mengundang Bupati dan atau Wakil Bupati serta pejabat terkait lainnya. Saya memang ingin menumbuhkan kesan tersendiri saat rumah baca ini diresmikan kelak dan sedang memikirkan beberapa teknis terkait acara launching tersebut. Oleh karenanya, saya merasa perlu untuk menyingkronkan agenda pribadi saya dengan agenda launching tersebut agar tidak saling bertabrakan dan memungkinkan semua stakeholder yang ada bisa turut ambil bagian. Di dalam kepala saya sudah terbayang adegan-adegan yang akan muncul di acara launching tersebut dan karenanya membuat semangat saya serasa bergolak. Namun khusus di bagian ini akan saya kronik di tulisan yang selanjutnya, insya Allah. Karena saya merasa perlu menjaring suara-suara dari para tetangga yang tenaganya pasti akan saya sangat butuhkan. Itulah sebabnya, saya mengagendakan pertemuan dengan para tetangga untuk mensosialisasikan gagasan ini dalam level yang lebih personal sehingga dapat memancing inisiatif mereka untuk turut mensukseskan gerakan ini. Karena bagaimanapun, ini adalah gerakan yang ingin saya bawa ke tingkatan yang lebih massif dan karenanya saya ingin membangkitkan potensi-potensi yang berserak itu untuk muncul ke permukaan.

Terima kasih kepada semua pihak yang turut membantu gerakan ini, baik secara moral maupun material, termasuk dukungan dan doa yang sangat berharga. Insya Allah catatan ini akan saya lengkapi di kesempatan mendatang. [rbjendelailmu]

Luwuk, Agustus 2014 

Selasa, 22 Juli 2014

Kronik Rumah Baca: 23 Juli 2014

Kronik berikut ini awalnya tidak seperti ini. Awalnya saya menulis “begitu” tapi akhirnya saya berubah pikiran dan menggantinya menjadi “begini”. Namun berhubung yang tahu begitu dan begininya hanya saya, maka anggap saja tulisan ini akan jadi begini. Singkat cerita, saya mau sedikit mendokumentasikan hasil pertemuan saya dengan beberapa orang dalam dua hari terakhir terkait sosialisasi Rumah Baca Jendela Ilmu yang detik-detik kelahirannya serasa makin mendekat saja.

Pada hari Senin (21/7) pagi kemarin, saya bertandang ke rumah seorang teman. Hasil pertemuan itu sudah saya kronik di sini. Saya sepertinya agak terburu-buru saat mengkronik bagian itu karena ternyata di hari yang sama saya juga bertemu dan berbincang dengan beberapa orang lainnya. Oleh karenanya, tulisan berikut ini akan melengkapi tulisan yang sudah saya buat sebelumnya itu ditambah dengan beberapa perkembangan lainnya yang berlangsung dalam dua hari terakhir.

Setelah dari rumah Nia, saya lalu ke kantor. Tidak banyak yang saya lakukan di kantor hari itu selain membaca koran pagi di ruangan sekretaris, membalasi beberapa pesan di Facebook, melengkapi konten blog ini, dan kegiatan-kegiatan ringan lainnya. Sekitar jam 11 siang, saya keluar kantor. Saya mengarahkan mobil ke jalan Pelita. Cuaca agak gerimis waktu itu. Rencananya saya mau mengantar proposal ke seorang teman yang bekerja di Pegadaian, Devi. Saya memang sudah berjanji dari jauh-jauh hari untuk mengantarkan proposal itu kepadanya. Tapi karena satu dan lain hal, saya baru sempat untuk mengantarnya hari itu. Setiba di depan kantor Pegadaian di Pelita saya lumayan gondok ketika tahu bahwa tas kain berwarna hitam berisi proposal ternyata tertinggal di kantor. Padahal awalnya saya kira tas itu sudah ada di jok belakang. Namun karena saya kurang teliti dan tidak memeriksa dahulu sebelum berangkat, saya lalu kembali ke kantor untuk mengambil tas itu di ruangan sekaligus shalat zhuhur di mushala kantor. Sebelum zhuhur, saya menyempatkan diri untuk memeriksa facebook, ternyata ada satu pesan. Dari Devi. Ia bertanya apakah tadi saya memarkir mobil di depan kantornya, saya jawab iya. Dan saya ceritakan masalah yang sebelumnya sudah saya tuliskan di atas perihal tas yang tertinggal. Saya berjanji akan lewat di kantornya lagi sekitar jam setengah dua atau jam dua. Karena saya berencana untuk mampir ke rumah Ustadz Iswan yang tak jauh dari situ.

Sekitar jam setengah dua siang, saya kembali ke luar. Kali ini saya kembali ke jalur yang sebelumnya sudah saya lewati: Jalan Pelita. Cuaca di Luwuk hujan gerimis. Saat saya memarkir mobil di sisi jalan, saya melihat Ilham, teman sekantor dari seksi Eksten, sedang berteduh di samping kantor Pegadaian. Saya menyapanya dan spik-spik sebentar. Setelah itu saya masuk ke kantor Pegadaian dan menyerahkan proposal Rumah Baca Jendela Ilmu kepada Devi. Pertemuan itu sangat singkat. Saya hanya melungsurkan proposal itu kepadanya dan langsung berpisah. Sepertinya dia sedang sibuk jadi saya nggak mencoba untuk membuka dialog lebih banyak. Padahal saya selalu membuka dialog saat menyerahkan proposal kepada siapapun.

Keluar dari kantor Pegadaian, saya menelepon Teh Rela, menanyakan apakah Ustadz Iswan sudah datang dari Palu. Kalau ada, saya berencana untuk bertemu dengan beliau, ada beberapa hal yang ingin saya bicarakan. Teh Rela bilang bahwa Ustadz baru saja pulang dan sedang beristirahat. Saya mengurungkan niat untuk bertandang ke rumah Ustadz dan menunda pembicaraan yang sudah saya siapkan. Saya menggeser layar handphone, menelepon seorang teman yang dulu pernah saya ajak diskusi soal dunia minat baca di sebuah masjid di kelurahan Mendono, kecamatan Kintom: mas Agus.

Mas Agus ini orang Jawa, tapi dapet istri orang lokal. Sama seperti saya. Beliau bekerja di Bank Syariah Mandiri (BSM) Luwuk. Saya tidak ingat kapan kali bertemu dengan beliau, mungkin sekitar empat atau lima tahun yang lalu. Mas Agus ini orang periang dan sangat ramah. Kami sempat mengobrol sampai berjam-jam waktu di masjid Mendono tempo hari. Ketika itu saya berjanji untuk kembali bertemu dengannya untuk menyampaikan proposal dari rumah baca yang saya gagas. Beliau menyetujui dan menunggu.

Siang itu, saya meneleponnya, menanyakan apakah beliau sedang sibuk atau tidak, dan apakah saya bisa mampir sebentar di kantornya berhubung saya sedang ada di luar sekarang. Beliau, dengan keramahannya yang tulus, menyilakan saya datang. Saya lalu memutar mobil ke arah jalan Urip Sumoharjo dan mencari spot parkir yang cocok. Saat masuk ke dalam kantor BSM, saya berkata kepada satpam yang berjaga di pintu masuk bahwa saya ingin bertemu dengan pak Agus. Satpam itu lalu masuk ke dalam ruangan. Beberapa detik kemudian ia kembali kepada saya dan menyilakan saya masuk ke ruangan itu. Suasana di lobi BSM lumayan ramai. “Ada pencairan gaji 13 pegawai pemda”, kata mas Agus kepada saya saat kami berbincang di telepon beberapa menit lalu.

Masuk ke ruangan yang hanya bisa dimasuki pegawai BSM itu saya lalu berbelok ke kanan. Tampak mas Agus sedang duduk di sana dan menyambut saya dengan senyum lebar. Kami berbasa-basi sejenak dan mengingat-ingat kembali tentang obrolan tempo hari saat di masjid Mendono. Mas Agus menyatakan dirinya bahwa beliau siap membantu Rumah Baca ini dan beliau bersedia untuk menyebarkan informasi ini kepada kenalan-kenalannya, termasuk teman-temannya di BSM. Kami mengobrol lumayan banyak sambil sesekali tertawa lepas. Ruangan yang padat itu jadi ramai karena suara obrolan dan tawa kami. Saat saya hendak berpamitan, seorang pegawai pemda berbaju hijau tua datang untuk menemui mas Agus yang justru makin mempermudah saya untuk minta diri dari situ. Saya mengucapkan terima kasih kepada mas Agus atas penerimaannya yang hangat .

Dari BSM, entah kenapa, saya ingin pulang. Sampai di rumah, firasat saya ternyata benar, mobil Kijang Innova bercat abu-abu milik tetangga saya sudah terparkir di depan rumah. Saya lalu memasukkan mobil di garasi dan berjalan ke rumah yang jaraknya dari rumah saya hanya dipisahkan dengan satu rumah saja. Itu adalah rumah keluarga istri saya, ibu Masnawati Muhammad. Kami biasa memanggilnya Mak Pena, atau Tante Sau, atau Da’a. Saat gerbang berwarna hitam di rumah ibu Masnawati telah tampak, saya melihat suaminya, kami biasa memanggil beliau Om Peki atau Pak Pena, keluar dari dalam rumah. Saya bertanya apakah ada Mak Pena di rumah, beliau bilang ada dan menyilakan saya masuk. Menenteng tas kain berwarna hitam, saya masuk lewat pintu samping yang terbuka lebar, mengetuk pintu dan menguluk salam. Ibu Masnawati keluar dari kamarnya. Ia berkata bahwa ia baru saja sampai. Saya bilang kebetulan sekali karena saat saya melihat mobil Innovanya terparkir, saya langsung bergegas ke rumah ini untuk suatu keperluan.

Dari raut wajahnya, saya bisa menduga bahwa beliau sudah tahu maksud kedatangan saya siang menjelang sore itu. Oh iya, saya lupa menyebutkan bahwa Ibu Masnawati ini adalah anggota legislatif DPRD Kabupaten Banggai dari PPRN. Pada pemilu legislatif bulan April kemarin, beliau kembali terpilih lewat partai yang berbeda: Gerindra. Beliau masih ada hubugan keluarga dengan istri saya dari pihak ibu. Singkat cerita, saya mengobrol banyak dengan beliau. Saya mengutarakan keprihatinan saya terhadap kondisi anak-anak di komplek BTN ini dan mengajaknya untuk turut serta mengatasi persoalan yang ada di sini. Saat saya mengeluarkan proposal, beliau hendak meminta diri untuk masuk ke kamar, mungkin untuk mengambil uang, tapi, dengan segala hormat, saya langsung mencegahnya. Saya ingin mengajaknya berdiskusi dulu sebelum saya meminta kesediaannya untuk membantu usaha ini.

Ketika saya bersilaturahim dengan beberapa orang untuk menyampaikan proposal Rumah Baca Jendela Ilmu, saya tidak ingin sekedar menyerahkan beberapa lembar kertas warna-warni terjilid yang berisi permohonan bantuan, baik dana maupun barang lainnya, tapi juga sebagai momen untuk berdiskusi, berbagi keprihatinan akan kondisi anak-anak di Luwuk yang kurang mendapat perhatian dari masyarakatnya dalam hal minat baca mereka, serta mengajak semua elemen masyarakat untuk turun tangan dan berkontribusi riil demi menciptakan masyarakat yang lebih terstruktur dan lebih baik di masa depan.

Saya percaya, semua anak, siapapun mereka, punya hak yang sama untuk dapat menjalankan masa tumbuh-kembang mereka secara optimal dan terarah, serta mendapatkan pendampingan yang memadai dari para orangtua dan elemen masyarakat lainnya yang memiliki kepentingan dan masih menyimpan kepedulian serta optimisme akan masa depan kolektif daerah ini di masa mendatang. Hal inilah yang menjadi topik diskusi kami siang itu. Saya memintanya untuk menyimpan proposal itu dan menyerahkan kepada beliau kira-kira bantuan dalam bentuk apa yang tepat untuk mendukung usaha itu yang sesuai dengan kapasitasnya sebagai seorang anggota legislatif.

Selain bertemu dengan empat orang tersebut, pada hari Selasa (22/7) saya juga bertemu dengan teman saya yang bernama Mhono. Ia punya bakat menggambar komik yang sangat bagus. Berkat saran dari teman saya yang lain di Facebook, Mas Ichang, saya memintanya datang ke Masjid Agung jam 1 siang untuk membahas beberapa hal terkait rencana pembuatan brosur rumah baca. Siang itu kami juga mengobrol banyak tentang dunia komunitas di Luwuk dan tentang hal-hal ringan lainnya.

Tulisan ini sebenarnya hendak saya buat semalam. Tapi karena sudah terlalu mengantuk, saya akhirnya langsung tertidur sekitar pukul 9 malam. Sepertinya kronik kali ini lumayan panjang. Semoga pembaca tidak jatuh bosan karenanya. Tabik! [rbjendelailmu]



Luwuk, Juli 2014 

Senin, 21 Juli 2014

Buku Baru Datang: 21 Juli 2014

Siang ini (21/7) saya kedatangan paket dari Denpasar berisi buku-buku sejarah obralan yang saya pesan dari seorang kaskuser sekitar sepekan lebih yang lalu. Sebenarnya ada satu judul buku lagi yang belum sempat terkirim oleh sang seller karena satu dan lain hal. Namun kami sudah bersepakat bahwa dia akan segera mengirimkannya setelah urusannya selesai.

Berikut judul-judul buku yang datang tadi siang:


  1. Perjalanan Prajurit Para Komando karangan Sintong Panjaitan terbitan Kompas
  2. Pembersihan Etnis Palestina karangan Ilan Pappe terbitan Elex Media
  3. Saya Tidak Pernah Minta Ampun Kepada Suharto Sebuah Memoar karangan M. Jassin terbitan Pustaka Sinar Harapan
  4. ATLANTIS : The Lost Continent Finally Found karangan Prof. Arysio Santos terbitan Ufuk
  5. Perang Napoleon di Jawa karangan Jean Rocher terbitan Kompas
  6. Memoar Seorang Eks Digulis karangan Mohamad Bondan terbitan Kompas
  7. Legiun Mangkunegaran karangan Iwan Santosa terbitan Kompas
  8. Pak Harto The Untold Stories karangan Tim Penulis terbitan Gramedia


Buku-buku di atas saya beli setelah mendapatkan sumbangan dari seorang teman. Semoga dapat bermanfaat untuk rumah baca ini. Terima kasih. [rbjendelailmu]



Luwuk, Juli 2014 

Minggu, 20 Juli 2014

Kronik Rumah Baca: 21 Juli 2014

Luwuk pagi hari masih dicumbui gerimis tipis dan diurapi seberkas sinar matari lemah dari balik awan kelabu. Bukit We tampak mendongak ke langit abu-abu sementara saya sedang berusaha memarkir mobil saya di samping sebuah tembok yang terbuat dari bata merah. Bunyi gemiricik air dari Kuala Mangkio yang sempit menjadi satu-satunya suara di situ. Setelah melewati jembatan kecil yang membelah kuala mini itu, saya sampai di depan sebuah rumah yang pintu depannya masih terbuka. Seorang lelaki sedang tidur di sofa ruang tamu, membelakangi pintu depan. Saya mengetuk pintu rumah dan menguluk salam dengan suara keras. Seorang lelaki lainnya keluar dari dalam dan menyilakan saya masuk. Ia kembali ke dalam dan terdengar suaranya sedang memanggil orang yang hendak saya temui pagi itu.

Orang itu lalu keluar. Seorang perempuan berjilbab lebar dan baju terusan bermotif batik. Perutnya semakin membuncit tanda hari kelahiran buah hati pertamanya semakin dekat. Ia lalu membangunkan lelaki yang sedang tidur di salah satu sofa, yang ternyata adalah adiknya itu, agar ia bisa duduk di situ. Butuh usaha yang agak keras sebelum lelaki muda itu akhirnya bangun dan pergi ke belakang rumah, mungkin, untuk melanjutkan tidurnya yang terusik oleh kedatangan saya.

Perempuan yang ada di seberang saya itu ternyata sudah menduga kedatangan saya ke rumahnya pagi itu -- well, sebelumnya saya memang sudah meneleponnya bahwa saya akan datang ke rumahnya pagi itu hehe. Oh iya, dia bernama Firnawati Labihi. Kami biasa memanggilnya Nia. Ia adalah seorang fasilitator CSR DSLNG di desa Sinorang Pantai. Saya lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam tas kain berwarna hitam yang saya bawa. Sebuah proposal dari rumah baca yang sedang saya kelola. Nia meraih proposal itu dan mulai membacanya sementara saya memberikan beberapa penjelasan terkait rencana saya membuat rumah baca yang menjadi konten utama proposal itu. Saya, entah kenapa, memiliki keyakinan bahwa Nia adalah sosok yang tepat untuk proyek ini.

Obrolan kami berkembang. Nia ternyata sempat punya keinginan untuk membuka taman bacaan di rumahnya. Ia merasa prihatin dengan kondisi anak-anak di lingkungannya yang hanya mengisi waktu luangnya dengan bermain tanpa arah dan minim perhatian dalam hal pendidikannya. Kami berdua ternyata punya keprihatinan yang sama karena ternyata di masa lalu ia pernah ditanya oleh sebuah perusahaan tempatnya bekerja tentang keberadaan taman bacaan di kota Luwuk yang nyatanya ketika itu masih belum ada. Oleh karenanya, saya mengajaknya untuk mendukung rencana rumah baca ini sebagai sebuah pilot project. Sehingga ketika rumah baca ini semakin berkembang dan mendapat kepercayaan yang besar dari para donatur dan stakeholder yang ada, maka bukan tidak mungkin kalau rumah baca ini akan dikembangkan menjadi cabang-cabang yang tersebar di seantero kota Luwuk. Nia tampak bersemangat dengan ide saya dan berjanji untuk menyuarakan proposal itu kepada teman-temannya di tempat kerjanya. Kami lalu memperlebar diskusi untuk memperbesar jejaring potensi yang bisa kami manfaatkan untuk turut membantu merealisasikan rencana ini. 

Keyakinan saya ternyata terbukti. Nia memang orang yang tepat untuk diajak bertukar pikiran tentang hal ini. Responnya yang bersemangat menjadikan saya makin bersemangat untuk mengelola rumah baca ini secara maksimal dan profesional supaya manfaatnya bisa dirasakan oleh lebih banyak orang, suatu hari nanti, insya Allah. Saya berpamitan kepadanya seraya menitipkan semangat itu untuk kepada orang lain yang punya kepedulian dengan dunia pendidikan di kota ini. Suara gemericik air dari kuala Mangkio dan gerimis tipis yang menyelimuti jalanan kota ini menemani langkah saya menuju tempat mobil saya terparkir. Semoga ada kabar baik. Amin. [rbjendelailmu]



Luwuk, Juli 2014

Sabtu, 19 Juli 2014

Pemasangan Semacam Spanduk Sosialisasi

Sekitar dua hari yang lalu (18/7), kami memasang spanduk ini di depan rumah yang juga akan menjadi lokasi Rumah Baca. Spanduk itu sengaja kami pasang sebagai pra kondisi sekaligus untuk mensosialisasikan kepada para tetangga kami di komplek BTN Muspratama tentang rencana pembukaan taman bacaan ini. Yang merespon spanduk itu memang belum banyak, karena cuaca di Luwuk akhir-akhir ini sedang sering hujan sehingga orang-orang lebih memilih berdiam di rumah ketimbang jalan-jalan keluar, tapi ada juga satu dua yang bertanya dan memberikan respon. [rbjendelailmu]



Luwuk, Juli 2014  

Jumat, 18 Juli 2014

Kronik Rumah Baca: 19 Juli 2014

Suasana kantor kelurahan Kilongan Permai tampak sepi. Hanya ada dua buah sepeda motor yang terparkir di pelatarannya. Saya memarkir mobil di depan pintu masuk kantor, mengambil map hijau di dashboard, dan masuk ke dalam kantor. Seorang ibu paruh baya sedang duduk di ruang depan kantor yang berukuran mungil dan disesaki dengan dua buah meja besar dan beberapa kursi itu. Usai menguluk salam, saya bertanya apakah saya bisa bertemu ibu Erlin. Ibu itu tersenyum dan berkata bahwa dialah Erlin yang saya cari.

“Oh, bapak ini yang tadi dibilangnya pak lurah mau datang ke kantor buat minta stempel?” tanyanya. Saya mengiyakannya. Ibu Erlin menyilakan saya duduk sementara ia mengambil sebuah wadah berisi alat tulis, kertas-kertas, dan stempel sekaligus bantalannya.

Saya menyorongkan secarik kertas kepadanya, mengambil kursi plastik yang ada di dekat situ dan duduk. Sambil duduk, saya memandangi lingkungan sekitar kantor kelurahan yang sangat tenang. Bahkan saking tenang dan sepinya, kantor ini pernah kebobolan maling beberapa bulan yang lalu.

“Laptop, komputer, dan perlengkapan elektronik lainnya hilang semua”, aku ibu Erlin sambil membaca-baca kertas yang saya serahkan kepadanya. Saya memandang kota Luwuk yang tersembunyi di balik lekukan bukit dari ruang depan kantor yang menyajikan pemandangan ke arah lautan itu. Ibu Erlin bertanya kepada saya soal alasan kedatangan saya. Ia hanya diberitahu oleh atasannya bahwa nanti akan ada orang yang minta dibuatkan surat keterangan dari kelurahan sekaligus meminta stempel dokumen sehingga nanti atasannya itu akan menandatangani dokumen itu di rumahnya saja. Saya bercerita tentang alasan kedatangan saya, termasuk tentang rencana saya membuat rumah baca di atas (BTN Muspratama). Selain ibu Erlin, ikut nimbrung pula dua orang ibu pegawai kantor kelurahan itu. Mereka mengapresiasi rencana saya itu dan akan sangat senang jika rumah baca tersebut kelak beroperasi.

Setelah berbincang agak banyak, ibu Erlin meminta diri untuk ke ruangan sekretaris lurah sambil membawa beberapa kertas, termasuk secarik kertas yang tadi saya berikan. Tak sampai seberapa lama, seorang lelaki paruh baya keluar dari ruangan di bagian belakang, sepertinya beliau adalah sekretaris lurah yang baru saja ditemui ibu Erlin, dan berjalan ke ruangan yang ada di bagian depan. Suara tak tik tak mesin ketik mewarnai siang yang hening itu. Sambil menunggu surat keterangan yang saya minta selesai diketik, saya memandangi dinding kantor yang ditempeli papan informasi. Selain papan berisi struktur kantor kelurahan, ada dua papan di bagian depan kantor ini, yang ada di hadapan saya, yang berisi profil dan monografi kelurahan Kilongan Permai secara umum. Papan informasi yang dibuat seadanya itu memuat aneka informasi yang sebenarnya bisa sangat berguna untuk kemajuan daerah. Namun entah kenapa, saya yakin kalau informasi yang tertulis di papan itu tidak pernah diperbarui.

Keyakinan saya terbukti saat saya bertanya kepada salah satu ibu pegawai kantor kelurahan yang sedang menghitung uang di situ seperti tentang jumlah anak-anak usia SD dan SMP yang ada di Muspratama, jumlah keluarga kurang mampu yang ada di Muspratama, dan pertanyaan-pertanyaan empirik lainnya.

Saat mata saya menelusuri tulisan-tulisan yang tercantum di papan itu satu demi satu, saya tidak menemukan fasilitas publik bernama perpustakaan di sana – well, saya tidak akan terkejut. Saya juga tidak menemukan ada komunitas taman bacaan di sana. Padahal, kalau saya tidak khilaf, di kelurahan Kilongan Permai ini ada banyak sekolah. Mulai dari MIN 9, SDN Muspratama, PAUD Muspratama, PAUD Nusagriya, SMP 6, dan Pesantren DDI. Dari konfigurasi yang ada seperti itu saja, sebenarnya sudah bisa ditebak berapa kira-kira jumlah anak usia SD-SMP yang tinggal di daerah itu. Saya lalu bertanya kepada ibu Erlin, apakah di daerah ini pernah ada komunitas taman bacaan yang dijawabnya dengan tidak ada – sekali lagi saya tidak terkejut.

Bunyi hentakan mesin ketik masih meramaikan siang menjelang sore yang hening di kantor kelurahan tersebut. Seorang ibu pegawai kelurahan yang berusia agak muda bertanya kepada saya tentang hal-hal teknis seputar taman bacaan yang akan saya kelola. Saya menjawab pertanyaan ibu itu dengan sebaik-baiknya dan ia pun berjanji akan mampir ke taman bacaan itu suatu hari nanti. Ia merasa senang dan mendoakan keberhasilan untuk usaha saya itu. Ibu itu juga meminta lembar pengesahan yang saya bawa untuk distempel dan ditandatangani lurah supaya ia bisa menuliskan nama dan NIP pak lurah di situ. Saya berterima kasih atas bantuannya.

Beberapa menit kemudian, suara mesin ketik berhenti. Pak sekretaris lurah memanggil ibu Erlin dan ia kembali ke ruangannya di belakang. Ibu Erlin lalu menyerahkan kertas yang baru saja diketik itu kepada saya untuk diperiksa. Saya menyetujuinya dan ibu Erlin langsung menomori dan menstempelnya. Ibu muda yang tadi banyak bertanya kepada saya tampak masih menulis di lembar pengesahan. Beberapa menit kemudian, kedua ibu itu sudah menyelesaikan pekerjaannya. Saya mengucapkan terima kasih kepada mereka semua dan meminta diri untuk ke rumah pak Baharullah dan meminta tanda-tangannya.

Sekitar tujuh belas menit kemudian, saya sampai di kantor. Saya memarkir mobil dan mencari-cari satpam untuk meminjam motor. Pos satpam kosong. Saya masuk ke lobi kantor. Mas Is, satpam kantor saya, sedang duduk di salah satu sofa. Saya lalu meminjam motornya. Ia langsung bangkit dan mengajak saya berjalan ke pos. Setelah membuka pintu pos, ia membawa seutas kunci dan menempatkannya di motor.

“Mau ke Jole, mas Is”, kata saya yang dibalasnya dengan anggukan dan senyuman. Saya berterima kasih kepadanya dan langsung berlalu. Di Jole, saya sudah ditunggu oleh pak Baharullah yang sedang duduk di ruang tamunya sambil membaca koran. Masih berseragam kerja, beliau bertanya tentang beberapa hal seputar surat keterangan yang dibuat oleh anak buahnya. Saya menyerahkan map berwarna hijau berisi kertas-kertas yang akan ditandatanganinya itu kepadanya. Beberapa detik kemudian, beliau selesai membubuhkan tanda-tangannya. Saya pamit dan segera meluncur ke tukang fotokopi di perempatan lampu merah Karaton untuk menjilid proposal yang sudah lengkap itu. Dengan demikian, petualangan saya hari itu telah selesai. Semoga semua pihak yang telah memudahkan semua urusan saya hari ini mendapatkan sebaik-baik balasan dari Allah swt. Amin. [rbjendelailmu]



Luwuk, Juli 2014 

Rabu, 16 Juli 2014

Kronik Rumah Baca: 16 Juli 2014

Pertama-tama, saya harus meminta maaf kepada supervisor saya di kantor, mas Rahmat Darmawan, atas beberapa pekerjaan yang terbengkalai dalam beberapa hari belakangan – well, sepertinya saya memang sering melalaikan pekerjaan saya sejak dulu, hehe – karena akhir-akhir ini saya sedang merasa begitu bersemangat dengan proyek taman bacaan ini. Semangat yang begitu meluap ini bukan tanpa sebab karena selama beberapa hari belakangan ini saya dihujani oleh aneka respon yang menggembirakan dari beberapa teman sehingga saya harus sedikit berpacu dengan waktu agar saya tidak kehilangan momentum yang bagus tersebut.

Maka sejak akhir pekan kemarin, saya melakukan banyak sekali pekerjaann di antaranya: mendata beberapa koleksi buku yang belum didata, menyampulnya bersama istri saya hingga lepas tengah malam, melakukan pertemuandengan pak Lurah Kilongan Permai, berkomunikasi dengan beberapa calon donatur, berkoordinasi dengan para relawan yang bersedia ikut menyampul buku – terima kasih bu Enny dan ukhti Mila yang sudah turut membantu menyampul buku dan juga telah menyumbangkan beberapa buku barunya kepada saya – , hunting buku dan komik murah di internet yang syukurnya bisa saya dapatkan, berkoordinasi dengan adik saya di Jurangmangu perihal teknis pengiriman, termasuk mengupdate blog Rumah Baca Jendela Ilmu dan juga blog-blog peliharaan saya lainnya. Saya juga menyempatkan diri menulis opini di Luwuk Post pada awal pekan yang syukurlah langsung dipublikasikan keesokan harinya oleh mereka – terima kasih Luwuk Post.

Dari semua pekerjaan yang saya lakukan di atas, saya juga harus mondar-mandir Luwuk-Kilongan-Jole demi mengejar tanda tangan pak Baharullah, Lurah Kilongan Permai, yang baik hati, termasuk bapak Sekretaris Lurah Kilongan Permai dan para staf ibu-ibunya yang sudah sudi saya repotkan hari ini, yang sudah membantu saya untuk membuatkan Surat Keterangan Kelurahan. Ditambah lagi, setelah dokumen-dokumen legal itu siap, saya harus pergi ke tempat fotokopi untuk menjilidnya dan jadilah kesepuluh jilid proposal itu siap untuk dibagikan. Saya juga menscan beberapa dokumen yang sudah ditandatangani dan distempel agar bisa saya merge menjadi satu softcopy proposal final sehingga bisa saya distribusikan kepada teman-teman via jalur dunia maya.

Syukurlah, semua pekerjaan tersebut selesai tadi sore. Dan itulah sebabnya, saya merasa perlu untuk mengucapkan ungkapan maaf, sekaligus terima kasih, saya kepada supervisor saya yang terlalu baik hati itu seraya berjanji untuk menyelesaikan tumpukan janji yang kadung saya ucapkan tempo hari. Sore ini juga saya bertemu dengan seorang teman yang bersedia untuk menyumbangkan sejumlah uang kepada Rumah Baca ini, termasuk juga berkoordinasi dengan kawan lama saya di Abu Dhabi yang juga bersedia untuk “memperjalankan” proposal yang sudah siap kirim itu kepada teman-temannya di sana. Termasuk penawaran bantuan dari sahabat baik saya, Emir, yang juga bersedia untuk berpartisipasi dalam usaha ini. Saya juga harus mengucapkan terima kasih tak terkira kepada Mas Budi Elang Semeru, seorang penjual buku bekas di Facebook, yang sudah berbaik hati untuk menjual buku-buku bakulannya dengan harga sangat miring dan memberikan saya banyak sekali bonus berupa buku. Saya berdoa agar usaha mas Budi semakin berkah dan sukses asbab budi baiknya itu.

Ada banyak sekali dukungan dari teman-teman saya, baik berupa bantuan yang kasat mata maupun tidak, baik dari teman dekat secara jarak maupun yang nun jauh di sana. Oleh karenanya, saya hendak mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada mereka semua atas bantuan dan dorongan yang telah diberikan, baik secara langsung maupun tidak, sehingga Rumah Baca ini semakin menggeliat di tengah-tengah persiapan hari persalinannya yang semakin mendekat.

Saya juga merasa perlu untuk membuka kembali buku Room To Read yang ditulis oleh John Wood agar motivasi saya tetap menyala, termasuk juga menyesap tulisan-tulisan bertenaga di blog Jonru sehingga semangat saya tetap terjaga.

Malam ini saya sedang menghadap laptop antik saya yang berwarna merah hati. Saya sedang mendesain semacam spanduk Under Construction Rumah Baca Jendela Ilmu yang sedianya akan saya pasang di teras depan sehingga para tetangga yang tiap hari lalu-lalang di depan rumah mengetahui rencana ini. Siapa tahu, ada di antara mereka yang siap bergabung dan berpartisipasi secara aktif di kemudian hari. Saya harap seperti itu. [rbjendelailmu]




Luwuk, Juli 2014 

Senin, 14 Juli 2014

Dear, Perpustakaan Daerah Kabupaten Banggai

Pagi ini saya menyegera datang ke kantor demi mencari sesuatu. Sesuatu itu adalah koran Luwuk Post edisi entah kapan, yang beberapa hari lalu saya lihat secara sekilas memuat berita yang berhasil menyedot perhatian saya. Kalo saya tidak khilaf, ada berita tentang pengadaan buku oleh Perpustakaan Daerah ketika itu. Berhubung kantor tempat saya bekerja berlangganan Luwuk Post, saya yakin kalau koran yang memuat potongan berita itu ada di sana, di ruang sekretaris.

Setiba di kantor, saya langsung naik ke lantai dua tempat ruangan sekretaris berada. Ruangan itu masih kosong. Pendingin ruangannya belum lagi menyala. Saya masuk ke dalam, menaruh helm dan tas kain berisi buku yang saya bawa dari rumah, lalu duduk di kursi sambil menghadap meja yang dipenuhi dengan koran Luwuk Post edisi terbaru dan hari Sabtu (12/7) lalu. Tumpukan koran Luwuk Post lama yang ada di salah satu sudut meja langsung saya ambil. Setelah membolak-balik beberapa lembar koran, akhirnya saya dapatkan juga koran yang saya cari-cari sejak beberapa hari yang lalu itu.

Adalah koran Luwuk Post edisi Sabtu 5 Juli 2014 yang memuat berita tersebut di bagian Metro Luwuk halaman 8. Perpustakaan Daerah Usulkan Pengadaan Buku, demikian judul tulisan tersebut. Nampak dua buah foto yakni foto kepala Perpustakaan Daerah Bapak Kamil Datu Adam dan foto aktivitas pegawai perpustakaan yang sedang mengatur aneka buku mengapit tulisan pendek berisi empat paragraf tersebut. Saya lalu mengambil koran itu dan menekurinya.

Di satu sisi, saya sangat mengapresiasi keprihatinan bapak Kamil –  bolehkah saya sebut beliau dengan nama ini? – terhadap kondisi perpustakaan daerah yang masih jauh dari ideal. Sebuah keprihatinan yang juga saya rasakan terhadap salah satu aset daerah yang sangat berharga itu. Saya juga sangat mendukung upaya pengadaan buku yang beliau canangkan agar bisa kembali mengisi rak-rak buku yang masih lowong paska kebakaran hebat di awal bulan Januari tahun ini.

Hanya saja, ada satu poin yang hendak saya kritisi dari berita itu. Bila memang Perpustakaan Daerah menghendaki adanya pengadaan buku-buku baru, maka apa yang menjadi dasar pertimbangan bahwa buku berjudul ini dan itulah yang akan diadakan oleh pihak perpustakaan? Dalam kata lain, saat Perpustakan memutuskan untuk membeli buku-buku baru yang kelak akan mengisi rak-rak buku yang berjejalan di dalam sana, apa alasan yang mendasari bahwa buku-buku itu perlu diadakan? Dari mana Perpustakaan mendapatkan “wangsit” bahwa buku-buku itulah yang memang perlu dibeli dan dijadikan sebagai asupan warga kota ini? Apakah buku-buku yang dibeli itu murni inisiatif Perpustakaan, atau ada pertimbangan lain? Kalau ada pertimbangan lain, bagaimana proses kelahiran “pertimbangan” tersebut hingga akhirnya keputusan membeli buku berjudul A, B, dan C itu keluar? Apakah sebelumnya ada kajian internal terlebih dahulu atau ujug-ujug keluar begitu saja secara sepihak? Saya, sejujurnya, ingin tahu lebih banyak mengenai hal ini dan karenanya pertanyaan-pertanyaan itu lantas saya kemukakan kepada publik agar kita bisa sama-sama mengetahuinya.

Saya tentu hendak berprasangka baik bahwa Perpustakaan Daerah diisi oleh orang-orang yang punya kompetensi terbaik dalam bidang pendidikan dan oleh karenanya mereka memahami buku-buku apa yang perlu dibeli untuk dijadikan asupan bergizi bagi generasi-generasi muda di daerah ini. Namun di sisi lain, saya hendak mengekspresikan keprihatinan saya akan abainya masyarakat di kota ini dengan aspek yang cukup penting ini. Prihatin karena ternyata tak banyak yang peduli dengan faktor penting dalam dunia pendidikan: buku. Maka tak heran jika Perpustakaan Daerah membeli buku-buku itu berdasarkan inisiatif mereka sendiri tanpa adanya kontrol dan perhatian dari masyarakat luas, masyarakat yang abai dengan masa depan intelektual mereka sendiri. Atau inisiatif itu mungkin tidak sepihak-sepihak amat, karena bisa jadi Perpustakaan juga meminta pandangan dari pegiat pendidikan di daerah ini, namun karena yang dimintai pandangan hanya dari kalangan yang terbatas, maka cakupan inisiatifnya pun kemungkinan akan terbatas juga.

Dus, ada semacam ironi yang berpotensi muncul dari proses ini: pertama, perpustakaan ingin menggali informasi dari masyarakat tentang buku-buku yang perlu diadakan oleh mereka sebagai bagian dari pemenuhan kebutuhan intelektual warga, namun di sisi lain, masyarakat secara luas tidak diberikan andil yang memadai untuk turut berperan serta aktif; kedua, masyarakat tidak tahu bahwa Perpustakaan sedang menunggu “aspirasi” dari mereka, para warga itu, karena minimnya informasi yang disediakan oleh Pemerintah Daerah, dalam hal ini Perpustakaan, terkait buku-buku apa saja yang perlu diadakan oleh Perpustakaan untuk mengasistensi pengayaan intelektual warga di daerah ini.

Terakhir, saya ingin menyarankan kepada Perpustakaan agar di kemudian hari ketika mereka ingin melakukan pengadaan buku, maka cobalah untuk menyerap aspirasi dari masyarakat terlebih dahulu; buku-buku macam apa yang mereka kehendaki, apa saja judulnya, dan hal-hal teknis lain. Upaya ini bukan dimaksudkan untuk mengurangi legitimasi dan meragukan kompetensi Perpustakaan, bukan. Tapi upaya ini adalah cara untuk menyematkan rasa memiliki yang kuat dari masyarakat di daerah ini terhadap salah satu aset daerah yang sangat berharga: perpustakaan, dan relasi-relasi positifnya dengan kehidupan mereka di masa mendatang. Munculnya berita tentang pengadaan buku sebagaimana yang sudah saya sebutkan di atas semoga bisa dijadikan semacam umpan untuk memancing respon dari masyarakat tentang kepedulian mereka akan masa depan dunia pendidikan di daerah ini. Saya berharap seperti itu.



Tulisan ini dimuat di harian Luwuk Post edisi 15 Juli 2014 
Sumber: wahidnugroho.coom

Meraba Minat Baca Warga Luwuk

Bagaimana cara meraba minat baca masyarakat di suatu daerah? Apa indikator yang tepat dan apa pula alat ukurnya? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, mungkin ada baiknya jika kita menguraikan dulu apa yang dimaksud dengan minat baca sehingga kita bisa mendapatkan gambaran yang utuh dengan objek pembahasan kita.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, minat berarti kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu, perhatian, dan kesukaan. Sedangkan dalam buku babon Tesaurus yang diterbitkan oleh Pusat Bahasa Indonesia, minat memiliki relasi kedekatan maknda dengan animo, atensi, hasrat, hobi, interes, kecenderungan, kegemaran, kehendak, keinginan, kesenangan, ketertarikan, perhatian, dan selera. Jadi jika kita bicara soal minat, maka akan memiliki korelasi pula dengan kata-kata di atas.

Dari segi definisi, minat dapat diartikan sebagai kehendak, keinginan atau kesukaan (Kamisa, 1997). Minat adalah sesuatu yang pribadi dan berhubungan erat dengan sikap. Minat dan sikap merupakan dasar bagi prasangka, dan minat juga penting dalam mengambil keputusan. Menurut Gunarso (1995) minat dapat menyebabkan seseorang giat melakukan menuju ke sesuatu yang telah menarik minatnya. Sedangkan menurut Hurlock (1995), minat merupakan sumber motivasi yang mendorong orang untuk melakukan apa yang mereka inginkan bila mereka bebas memilih.

Sedangkan menurut para ahli, minat baca memiliki beberapa definisi yakni; salah satu aspek dari kesiapan membaca (Spodek, 1978), faktor terpenting dari kesiapan membaca anak untuk belajar membaca (Dallman, 1982), dan kecenderungan jiwa yang mendorong seseorang berbuat sesuatu terhadap membaca (Darmono, 2007). Sehingga bisa dikatakan bahwa minat baca ditunjukkan dengan keinginan yang kuat untuk melakukan kegiatan membaca.

Karena minat erat hubungannya dengan motivasi, bahkan bisa dikatakan ia adalah hulu dari motivasi itu sendiri, maka tak elok rasanya jika kita tidak menyertakan Teori Hierarki Kebutuhan Abraham Maslow dalam objek pembahasan kali ini. Mengapa? Karena eksistensi minat tidak akan bisa diraba dengan jelas sebelum kita memposisikan dirinya di antara kebutuhan-kebutuhan manusia yang kita pahami selama ini. Jika kita dapat menempatkan minat pada posisinya yang tepat, maka pertanyaan yang saya lemparkan di awal tulisan ini akan mendapatkan jawabannya.

Maslow mengatakan bahwa bahwa kebutuhan-kebutuhan di tingkat rendah harus terpenuhi atau paling tidak cukup terpenuhi terlebih dahulu sebelum kebutuhan-kebutuhan di tingkat lebih tinggi menjadi hal yang memotivasi seseorang. Kebutuhan-kebutuhan itu dari yang terendah sampai yang tertinggi adalah: Kebutuhan Fisiologi (seks, makan, minum, rumah, pakaian, dan kebutuhan dasar lainnya), Kebutuhan Rasa Aman, Kebutuhan Kasih Sayang, Kebutuhan Akan Penghargaan, dan Kebutuhan Aktualisasi Diri. Meski belakangan teori ini mengalami perkembangan hingga tingkatan yang ada mengalami penambahan, namun teori klasik ini masih tetap relevan untuk kita bahas. Lalu, minat baca berada di posisi mana?

Minat baca berada pada kebutuhan paling puncak dari hirarki tersebut, Kebutuhan Aktualisasi Diri, karena ia erat hubungannya dengan pencarian makna dirinya sebagai entitas pribadi yang unik dan peran kemasyarakatan yang selalu melekat dalam dirinya. Dua hal tersebut tidak akan dapat dipenuhi dengan baik dan benar jika seseorang tidak memiliki bekal pengetahuan yang cukup, dalam hal ini bersumber dari buku-buku yang telah dibacanya.

Soal minat baca sebenarnya bisa jadi sesuatu yang sangat personal. Namun jika kita bicara tentang “Minat Baca Warga”, maka ada domain kolektif yang berperan di sana, dalam hal ini pemerintah dan para pemerhati pendidikan. Sebelum kita membahas tentang perhatian pemerintah terhadap minat baca warganya, maka kita harus lebih dulu jujur menilai sejauh mana pemerintah dapat memfasilitasi warga-warganya dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar mereka. Berapa banyak warga di daerah ini yang masih hidup di bawah garis kemiskinan? Berapa banyak warga di daerah ini yang masih hidup dalam ketakutan dan karenanya selalu merindukan rasa aman dan kepastian hukum? Berapa banyak warga di daerah ini yang merasa telah mendapatkan curahan kasih sayang pemerintah yang telah mereka berikan amanah untuk mengelola daerah ini melalui pilihan mereka di bilik suara, seberapa jauh perhatian pemerintah terhadap kondisi mereka? Berapa banyak warga di daerah ini yang mendapatkan penghargaan dari pemerintahnya, penghargaan sebagai anak-anak bangsa yang juga berhak pendapatkan pelayanan terbaik dan bukan birokrasi rumit, berbelit, dan membuat kening mengernyit?

Berdasarkan uraian di atas, pertanyaan tentang bagaimana meraba minat baca warga Luwuk akan menjadi pertanyaan yang sulit untuk dijawab sebelum kebutuhan-kebutuhan mendasar yang mendahului kebutuhan akan aktualisasi diri, dalam hal ini membaca buku, telah terpenuhi lebih dulu: bagaimana kondisi perpustakaan yang ada? Bagaimana koleksi buku-bukunya? Apakah ada toko buku yang memadai di sini? Dan yang tak kalah pentingnya, bagaimana daya beli masyarakat?

Namun di sisi lain, kesulitan untuk menjawab pertanyaan yang tak kalah penting itu dalam situasi yang tidak ideal seperti saat ini tentunya tidak menjadikan kita tidak dapat melakukan apa-apa untuk turut andil dalam menumbuhkan minat baca warga. Ini memang kerja jangka panjang dan hasilnya tidak akan didapat dalam waktu singkat. Belum lagi tantangan untuk meningkatkan dan mengelola minat baca warga agar dapat menjadi salah satu sumber potensi untuk memajukan daerah ini. Semacam pekerjaan rumah bersama yang tentunya akan jadi kajian lanjutan yang perlu disorot secara kritis oleh orang-orang dan pihak-pihak yang berkepentingan dengan kualitas masyarakat di daerah ini di masa depan. Orang-orang itu bisa saya, Anda, dan bisa siapa saja. Momposa’angu tanga, mompoosa’angu patuju, mombulakon tano!


Tulisan ini dimuat di Luwuk Post edisi Senin, 7 Juli 2014 
Sumber: wahidnugroho.com

Perpustakaan Daerah, Riwayatmu Kini

Apa yang terjadi jika sebuah kota tidak memiliki perpustakaan? Apa yang terjadi saat sebuah kota menelantarkan perpustakaannya dan lebih memilih mengurusi gedung-gedung pemerintahannya yang kerap kali kosong dari aktivitas dan lebih memilih untuk mendirikan bangunan tanpa makna di atas bukit-bukit yang tinggi ketimbang memerhatikan perpustakaan yang berada di ruang tamunya sendiri?

Bagaimana sebuah perpustakaan diisi dan diurus sebenarnya menggambarkan tentang kualitas pemiliknya. Jika perpustakaan itu adalah miliknya pribadi, maka perpustakaan itu menggambarkan tentang kepribadiannya. Begitu juga dengan Perpustakaan Daerah, bagaimana ia diurus dan buku-buku apa saja yang menjadi koleksinya sebenarnya menggambarkan wajah dan level penghargaan daerah itu terhadap kualitas masyarakatnya.

Awal Januari tahun 2014, publik kota Luwuk dibuat terkejut dengan peristiwa kebakaran yang melanda bangunan Perpustakaan dan Arsip Daerah di jalan Urip Sumoharjo. Bangunan yang awalnya merupakan kantor Kecamatan Luwuk itu habis dilahap si jago merah, menyisakan reruntuhan dan puing-puing dari ribuan koleksi buku serta arsip-arsip penting yang menjadi  saksi sejarah perjalanan daerah ini dari masa ke masa. Peristiwa pahit itu seharusnya terekam dengan sangat kuat dalam benak warga kota Luwuk sebagai salah satu hari kelam dalam sejarah pendidikan dan kebudayaan kota ini.

Beberapa bulan selepas kejadian yang memilukan itu, saya mencari-cari lokasi perpustakaan yang baru dan mendapati lantai 1 gedung Badan Perijinan dan Pelayanan Terpadu sebagai destinasi Perpustakaan dan Arsip Daerah yang selanjutnya. Itu artinya, selama tujuh tahun tinggal di Luwuk, saya sudah menyaksikan pemindahan lokasi Perpustakaan Daerah sebanyak tiga kali.

Pemindahan lokasi ke tempat yang baru ini bukan tanpa catatan. Di samping lokasinya yang terlalu riuh dan jauh dari ketenangan, penataan lemari yang terlalu rapat dan ruangan yang terlalu sempit membuat suasana perpustakaan menjadi sesak dan tidak bisa dibilang nyaman. Belum lagi jika bicara tentang koleksi buku-bukunya yang kurang menarik ditambah kegiatan perpustakaan yang cenderung monoton dan kurang inovasi. Keputusan Pemerintah Daerah Kabupaten Banggai menentukan lokasi Perpustakaan dan Arsip Daerah ke lokasi yang terbaru saat ini dan juga kinerja perpustakaan dalam perannya meningkatkan minat baca di masyarakat perlu mendapat sorotan lebih dari orang-orang yang memiliki perhatian terhadap kualitas perpustakaan dan manfaatnya untuk khalayak umum.

Memang, rendahnya minat baca masyarakat di kota ini menjadi salah satu permasalahan yang kerap kali diabaikan. Padahal ia adalah indikator maju dan tidaknya sebuah daerah. Lihat saja perpustakaan-perpustakaan yang tersebar di sekolah-sekolah yang tersebar di daerah ini, kondisinya jauh dari menggembirakan. Itu jika kita baru menyoroti pada perwajahan perpustakaan, belum ke koleksi buku-bukunya dan juga program-programnya.

Ada dua pengabaian yang kerap kali terjadi pada perpustakaan: pengabaian pertama saat koleksi buku yang berlimpah itu hanya dijadikan pajangan di dalam lemari-lemari kaca yang tampak megah tanpa pernah dibaca; pengabaian ke dua adalah saat perpustakaan dianggap sebagai sebuah hal yang tak penting dan karenanya tak perlu diperhatikan. Coba tanyakan kepada warga di kota Luwuk ini, berapa di antara mereka yang sudah tahu bahwa lokasi Perpustakaan dan Arsip Daerah yang terbaru saat ini ‘baku tindis’ dengan bangunan BPPT? Saya sendiri baru ngeh dengan lokasi Perpustakaan bulan Mei kemarin, setelah melakukan pencarian yang cukup masif dengan bertanya ke sana dan ke sini.

Menciptakan perpustakaan yang memiliki daya tarik adalah pekerjaan rumah kita bersama yang menghendaki masa depan daerah ini berjalan ke arah yang lebih cerah. Pemerintah Daerah tentu harus punya itikad baik yang kuat agar aset daerah yang berharga tersebut tidak dilupakan oleh generasi penerusnya hanya karena pengabaian dan sikap acuh tak acuh dari orang-orang yang telah diamanahi untuk menjaganya. Ungkapan salah seorang pejabat tinggi di daerah ini yang mengatakan bahwa “Perpustakaan sekarang tidak laku-laku” seharusnya menyadarkan kita tentang posisi kritis yang sedang dialami oleh Perpustakaan Daerah ini.

Sebagai penutup, saya hendak mengutip ucapan seorang sastrawan besar Argentina bernama Jose Luis Borges yang berkata bahwa, “I have always imagined that Paradise will be a kind of library”, aku selalu membayangkan bahwa surga itu seperti sebuah perpustakaan. Pertanyaannya adalah, sudahkah Perpustakaan Daerah ini menjadi surga bagi para pegawai dan pengunjungnya? Saya tidak tahu. Anda mungkin bisa menjawabnya.


Tulisan ini dimuat di Harian Luwuk Post Edisi Selasa 1 Juli 2014 dengan judul yang sama.
Sumber: wahidnugroho.com

Sabtu, 12 Juli 2014

Kunjungan ke Lurah Kilongan Permai

Paytua lagi ke luar. Ada urusan di Kilo Dua”, ujar ibu paruh baya itu.

“Tapi barangkali sabantar lagi dia so mo pulang, soalnya so dari tadi dia ada pigi”, lanjutnya.

“Ada nomor beliau yang bisa saya hubungi, bu?”  tanya saya.

Ibu itu lalu memanggil salah satu putrinya yang tak seberapa lama kemudian datang kepada saya dan langsung mendiktekan nomor seluler bapaknya. Selesai mencatat nomor itu, saya lalu menekan ikon telepon di telepon seluler saya. Beberapa detik kemudian, saya berbicara dengan suara di seberang sana yang sepertinya mengangkat teleponnya di pinggir jalan. Suara kendaraan lalu lalang terdengar dari ujung telepon. Saya berkata bahwa saya sudah ada di rumah Pak Lurah dan mau ada perlu dengannya.

“Sebentar saya so mo meluncur kesitu. Ada sementara di jalan, ini”, teriaknya.

Sore itu, selepas shalat Ashar, saya meng-sms Kak Ayat (Hidayat Monoarfa) untuk bertanya apakah ia sudah ada di rumah. Beberapa detik kemudian ia membalas bahwa ia sudah ada di rumahnya. Kami berdua memang sudah janjian sejak pagi untuk saling bertemu sore ini. Insinyur Hidayat Monoarfa, atau biasa disapa Kak Ayat, adalah Anggota Legislatif DPRD Kabupaten Banggai dari Fraksi PKS periode 2009-2014. Ini adalah bulan-bulan terakhir masa pengabdiannya sebagai anggota legislatif. Pemilu 2014 lalu tidak menghasilkan suara yang cukup untuk mengantarnya kembali ke Parlemen Lalong sehingga digantikan oleh Ustadz H. Iswan Kurnia Hasan Lc. MA yang meraup suara terbanyak di PKS pada daerah pemilihan (dapil) 1 yang juga dapilnya.

Kak Ayat adalah anggota dewan yang punya kepedulian tinggi dengan dunia pendidikan di Kabupaten Banggai. Selain aktif sebagai pengurus di BKPRMI dan Dompet Dhuafa, wajahnya kerap kali muncul di koran lokal dalam event-event sosial. Beliau juga sekaligus fasilitator Beasiswa Smart Ekselensia untuk wilayah Kabupaten Banggai. Saya dan beliau sesekali berdiskusi tentang dunia pendidikan di daerah ini. Kedatangan saya ke rumahnya sore itu demi meminta tolong kepadanya untuk menemani saya berkunjung ke rumah Lurah Kilongan Permai, bapak Baharullah Arsad, yang rumahnya ternyata bertetangga dengan tempat tinggal Kak Ayat di Jole.

Saat datang ke rumahnya yang terletak di dalam gang sempit, saya mendapatinya sedang bersantai. Ia mengenakan baju koko dan celana panjang putih. Saya berbincang sebentar dengan beliau perihal niat kedatangan saya ke rumahnya sore itu. tak sampai lima menit kami berbincang, ia lalu mengajak saya berjalan ke rumah Pak Lurah yang ternyata hanya berjarak sekitar tiga puluh meter dari rumahnya.

“Itu de pe rumah ada di belakang sini”, katanya sambil menunjuk ke arah belakang rumahnya.

Sesampainya di rumah Pak Lurah, kami disambut oleh istrinya dan disilakan duduk di ruang tamu untuk menunggu kedatangan suaminya yang masih ada di luar. Aneka foto tergantung di dinding. Ada foto keluarga, ada foto pelantikannya sebagai lurah, dan foto-foto lainnya. Kak Ayat bercerita bahwa rumah ini dulunya adalah rumah orangtuanya pak Baharullah. Pak Baharullah sendiri belum lama pindah dari tempat tinggalnya terdahulu di Tontouan sebelum akhirnya pindah ke Jole, aku Kak Ayat. Saya manggut-manggut.

Tak sampai sepuluh menit menunggu, Pak Baharullah pun datang. Ia tampak santai dengan kaus dan celana tiga perempat. Wajahnya tersenyum ramah saat menyalami saya. Setelah berbasa-basi sebentar, ia menanyakan perihal kedatangan saya sore itu. Kak Ayat memukaddimahi pertemuan itu dengan memperkenalkan saya kepada pak Baharullah. Setelah itu, forum diserahkan kepada saya dan saya mulai menjelaskan kedatangan saya ke rumahnya sore itu. Sekitar lima menit saya menjelaskan tentang saya, rencana saya, termasuk menyorongkan draft proposal yang sudah saya buat kepadanya untuk dibaca-baca.

Selesai menyimak saya berbicara, ia lalu mengambil kacamata bacanya di atas bufet dan menekuri proposal hitam putih yang saya serahkan barusan. Ia bertanya tentang hal-hal detil seperti lokasi jelasnya dimana, target rumah bacanya untuk siapa, koleksi buku yang saat ini ada berapa banyak, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Saya coba menjawab semua pertanyaan itu dengan sebaik mungkin yang dibalasnya dengan anggukan kepala berkali-kali. Batin saya, kalau bapak ini banyak bertanya, artinya beliau memerhatikan kata-kata saya dan proposal yang ada di tangannya pasti dibaca. Saya juga memerhatikan Kak Ayat yang tampak menyimak kata-kata saya dengan seksama.

“Kalo saya pribadi, rencana sebagus ini harus didukung, siapa tahu nanti bisa dikembangkan lagi kepada kegiatan-kegiatan lainnya”, katanya sambil menyebutkan beberapa kegiatan yang semuanya sudah saya cantumkan di dalam proposal.

“Saya memang punya rencana seperti itu pak, makanya saya butuh semacam legalisasi dari pemerintah daerah, dalam hal ini bapak sebagai Lurah Kilongan supaya rencana ini bisa direalisasikan”, terang saya.

“Te mungkin saya mo tolak kalo ada warga yang punya niat baik macam bagini, pak” katanya sambil tertawa. Saya dan Kak Ayat ikutan tertawa.

“Jadi begini. Pak buat saja draft surat rekomendasi yang bapak maksud tadi, nanti saya tinggal tanda-tangan saja”, ujarnya.

“Baik. Senin besok insya Allah saya ke kantor. Bapak nggak ada rencana ke luar kota kan?” tanya saya. Ia menggeleng mantap.

“Tidak. Saya ada di kantor. Nanti pak datang saja” ujarnya ramah.

Selain obrolan tentang rumah baca, kami juga sempat berbincang tentang suasana pencapresan dan segala hiruk-pikuknya. Dari uraian-uraian yang disampaikannya, dalam hati saya membatin, bapak ini sepertinya pendukung capres nomor satu, hehe.

Suara pengajian dari speaker masjid Jole sudah mulai terdengar. Kak Ayat memberi kode kepada kami bahwa waktu berbuka sudah semakin dekat. Saya pamit undur diri dan mengucapkan terima kasih kepada Pak Baharullah yang sudah meluangkan waktunya untuk menemui saya. Draft proposal yang saya bawa saya serahkan kepadanya.

“Untuk bapak pelajari, barangkali ada yang mau dikase tambah”, ujar saya.

“So bole ini. So mantap!” katanya lugas.

Sepulang dari rumah pak lurah, kak Ayat mengantar saya sampai ke tempat saya memarkir mobil. Ia lalu membantu saya agar saya dapat memutar mobil saya dengan nyaman dengan cara membuka pintu pagar tempat ia memarkir mobilnya. Saya mengucapkan terima kasih kepadanya dan berharap agar bisa kembali bertemu lain waktu. Sore semakin mendekat. Jalan Urip Sumoharjo masih dipenuhi dengan pembeli kue berbuka. Saya melajukan mobil ke arah Puge untuk mengantarkan sesuatu ke sana sebelum memutuskan untuk pulang. Benar-benar hari yang menggembirakan. Semoga semuanya berjalan dengan lancar. [rbjendelailmu]



Luwuk, Juli 2014

Jumat, 11 Juli 2014

Buku Baru Datang: Edisi 11 Juli 2014







Aplikasi messenger di laptop saya berkedip-kedip. Ternyata ada sebuah pesan masuk dari Angga, sekretaris kantor kami.

"Mas, ada paket", bunyi pesan itu.

Saya langsung bergegas turun ke lantai dua dan menuju ke ruang sekretaris. Dua buah paket bersampul cokelat ada di meja.

"Apa itu mas?", tanya Angga.

"Biasa, buku", jawab saya tersenyum. Setelah mengucapkan terima kasih, saya kembali ke ruangan saya di lantai tiga.

Paket pertama datang dari Jual Buku Sastra dan yang ke dua dari Cahaya Pustaka. Keduanya adalah seller buku online di facebook yang sering saya beli barang dagangannya. Saat masuk ke ruangan, ada Mas Rahmat, Pavit, dan Pak Asnawi yang sedang mendiskusikan sesuatu di sana. Mas Rahmat bertanya, paket apa itu? Saya jawab ini adalah paket buku. 

Setelah merobek pembungkusnya, saya mengeluarkan isi paket itu dan langsung memfotonya. Buku-buku ini saya beli setelah mendapatkan donasi dari seorang teman. Sementara itu, ada paket buku lainnya yang juga mendarat di rumah saya di Jurangmangu. Buku-buku itu juga merupakan pembelian dari donasi yang diberikan oleh beberapa teman. 

Berikut adalah daftar buku-buku tersebut:
  1. Menyusuri Lorong-Lorong Dunia karangan Sigit Susanto terbitan InsistPress
  2. Jalan Tak Ada Ujung karangan Mochtar Lubis terbitan YOI
  3. Panggilan Abadi karangan Najib Kailani terbitan Hanindita
  4. Lelaki Yang Menemukan Surga karangan Najib Kailani terbitan Tugu
  5. Buletin Media Dakwah berjudul Orientalisme
  6. Apa Yang Salah? Sebab-Sebab Runtuhnya Khalifah dan Kemunduran Umat Islam karangan Bernard Lewis terbitan YOI
  7. Jalan Raya Pos Jalan Raya Daendels karangan Pramoedya Ananta Toer terbitan Lentera Dipantara
  8. Bangkit Dan Runtuhnya Daulah Bani Saljuk karangan Muhammad Ali Ash Shalabi terbitan Al Kautsar
  9. Memoar Sultan Abdul Hamid II terbitan Al Kautsar
  10. Muhammad Al Fatih Penakluk Konstantinopel karangan Syaikh Ramzi Al Munyawi terbitan Al Kautsar
  11. Kezaliman Media Massa Terhadap Umat Islam karangan Muhammad Fadhilah Zein terbitan Al Kautsar
  12. Menjadi Laki-Laki karangan Eko Novianto terbitan Gema Insani Press
  13. Petite Histoire Indonesia karangan Rosihan Anwar terbitan Gramedia
  14. Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri karangan M. Zein Hassan Lc terbitan Bulan Bintang
  15. Theodore Boone karangan John Grisham terbitan Gramedia
  16. Writing and Being karangan Nadine Gordimer terbitan Jalasutra
  17. Proses Kreatif karangan S. Takdir Alisjahbana dkk terbitan Gramedia
  18. Tanjung Priok Berdarah Tanggung Jawab Siapa karangan Pusat Studi dan Pengembangan Informasi terbitan Gema Insani Press
Semoga buku-buku baru ini bisa bermanfaat dan terima kasih kepada para donatur yang sudah turut membantu. [rbjendelailmu]


Luwuk, Juli 2014 

Pekerjaan Rumah

Seorang teman bertanya kepada saya, “Emang target rumah bacanya buat siapa sih?”

Pertanyaan yang bagus. Setelah berpikir sejenak, saya lalu menjawab, “Untuk anak-anak dan remaja tanggung”.

Ia kembali bertanya demi mempertajam jawaban saya, “Rentang usianya?”.

“Kira-kira dari usia TK nol besar sampai SMP kelas tiga, lah”, jawaban saya terdengar kurang meyakinkannya. Menangkap roman yang tidak meyakinkan di wajahnya, saya coba memperbaiki jawaban saya supaya lebih terukur lagi.

“50% anak SD, 20% anak SMP, 20% anak SMA, dan sisanya 10% untuk umum”, rinci saya dengan angka-angka supaya keliatan lebih keren. Ia tampaknya puas dengan jawaban saya dan kembali bertanya.

“Bagaimana dengan koleksi bukunya? Apakah sudah sesuai dengan target yang barusan?”

Deg! Bener juga ya! Gedubrak-gedabruk bikin rencana muluk-muluk padahal koleksi bukunya masih jauh dari target yang hendak saya bidik. Saya baru tersadar jika koleksi buku saya bisa dibilang 98% -nya adalah buku-buku orang dewasa. Tercatat hanya ada beberapa buku anak-anak yang sudah rusak, beberapa puluh majalah anak dan bisa dibilang hanya satu dua buku-buku untuk remaja. Sebenarnya dulu sempat ada banyak buku-buku untuk remaja, tapi sudah saya lungsurkan ke Perpustakaan MIM.

Pertanyaan teman saya itu lalu menghadirkan pekerjaan rumah baru bagi saya: menyediakan buku dan bahan bacaan untuk anak-anak dan remaja tanggung. Buku-buku apa saja? Saya belum tahu. Malam ini saya masih berselancar di dunia maya untuk mencari referensi yang cocok sekaligus berburu buku-buku dalam bentuk joblot yang berharga miring.

Baiklah, pekan ini hunting buku untuk anak-anak dan remaja. [rbjendelailmu]


Luwuk, Juli 2014 

Perjalanan Baru Akan Dimulai

Peristiwa demi peristiwa yang hadir di ruang waktu kita secara bertubi-tubi akhir-akhir ini sebenarnya bisa jadi semacam trigger yang sangat bagus untuk meluaskan cakrawala berpikir sekaligus meningkatkan perbendaharaan pengetahuan kita agar ke depan kita bisa berpikir dan berlaku bijak sebelum bersikap. Apalagi jika sikap itu kita tunjukkan ke muka publik yang menuntut level pertanggungjawaban berbeda dengan sikap yang hanya ditunjukkan pada kalangan terbatas, dan homogen.

Coba lihat hingar-bingar quick count yang tiba-tiba saja mengisi ruang waktu kita, baik di dunia maya maupun nyata. Obrolan-obrolan tentang perkembangan rekapitulasi suara pelbagai versi berlangsung di teras masjid, di dego-dego, di kios, di pasar, di dalam rumah, bahkan saat ceramah mubaligh berlangsung ketika shalat tarawih menjadi indikator-indikatornya.

Awalnya saya tertarik mengikuti perkembangan yang ada dan sesekali ikut larut dalam kegaduhan itu. Istri saya pun tak ketinggalan. Ia kerap bertanya tentang kondisi ‘perang’ klaim yang berlangsung secara banal di media-media yang seharusnya mencerdaskan masyarakat, bukan justru membuat bingung mereka. Tapi pada akhirnya, saya merasa bahwa diskusi yang ada bukannya semakin ilmiah dan berjalan dengan kepala dingin, tapi justru sebaliknya. Orang-orang yang dulu terkenal dengan objektifitasnya mendadak mengeluarkan statement profan yang malah menghancurkan nama baik yang telah lama disandangnya. Para peneliti yang identik dengan nalar dan logika berbalik menjadi manusia bergelimang nafsu merasa benar sendiri dan mengkooptasi kebenaran hanya miliknya pribadi dan bukan sebaliknya. Benar-benar melelahkan.

Itulah sebabnya, saya berkata kepada istri agar tak lagi menghiraukan hiruk-pikuk yang ada di media, dan fokus saja dengan tugas yang sedang diembannya saat ini. Saya juga berpesan kepada teman-teman saksi dari PKS yang sedang merekap formulir C1 sepanjang siang dan malam agar tetap fokus dengan kerja mereka dan tidak menghiraukan kegaduhan yang sedang terjadi di luar sana.

Di luar itu semua, saya merasa perlu untuk menuliskan beberapa progres terkait Rumah Baca Jendela Ilmu yang bayangannya kerap menguasai hari-hari saya. Sebagaimana yang telah saya kronik di blog ini tempo hari, ada banyak kabar gembira yang datang kepada saya terkait perkembangan Rumah Baca. Soal ini nanti akan saya tulis secara lebih rinci di bagian tersendiri.

Khusus dalam tulisan ini, saya ingin menuliskan beberapa rencana saya ke depan. Rencana ini perlu saya dokumentasikan di blog ini agar ada semacam "tagihan" yang dapat dilihat setiap waktu dan karenanya harus saya penuhi agar tagihan itu tidak jatuh tempo dan terlupakan.

Dus, berikut adalah rencana saya.

Akhir pekan ini, saya berencana untuk mengunjungi Sekretaris Lurah Kilongan Permai. Saya belum tahu siapa namanya. Yang saya tahu beliau tinggal di komplek BTN Nusagriya, tak jauh dari rumah saya. Ada beberapa poin yang ingin saya sampaikan kepadanya perihal rencana merealisasikan Rumah Baca ini menjadi nyata termasuk meminta masukan dan pertimbangan yang siapa tahu bisa berguna ke depannya. Saya merasa bahwa usaha ini tidak akan sanggup saya emban sendirian. Bukan karena saya pesimis dan tidak yakin dengan ide saya, bukan. Lebih karena saya ingin menyinergikan potensi-potensi yang ada masyarakat sehingga mereka bisa berperan aktif dalam usaha ini. Selain itu, dengan melibatkan lebih banyak orang, saya ingin melebarkan informasi tentang Rumah Baca ini ke lebih banyak pihak supaya saya bisa menggali sumber-sumber donatur yang bisa diajak bekerja sama, termasuk calon relawan yang siap untuk mengembangkan kegiatan-kegiatan yang sudah saya susun, atau mungkin dikoreksi dan diperbaiki.

Selain akan berkunjung ke Sekretaris Lurah Kilongan Permai, saya juga berniat untuk bersilaturahim dengan Kak Ayat (Hidayat Monoarfa, Aleg DPRD PKS 2009-2014) yang dulu pernah saya ajak bicara panjang lebar mengenai pandangan saya tentang dunia perbukuan di Luwuk. Saya merasa perlu berbicara dengannya supaya saya punya sedikit “modal” untuk menemui pihak lain yang rencananya juga akan saya temui, Kepala Perpustakaan Daerah, Bapak Kamil Datu Adam. Semua hal yang saya tuliskan di bagian ini masih sebatas rencana dan saya juga masih mencari-cari waktu yang cocok untuk bertemu dengan orang-orang yang sibuk itu.

Pada akhirnya, saya sadar bahwa usaha meningkatkan minat baca masyarakat di daerah ini tidak akan mudah. Saya sudah mempersiapkan diri andaikata usaha saya menemui jalan terjal dan kesulitan dengan membaca kisah dari orang-orang yang memutuskan untuk berjalan di jalan yang sunyi dan jauh dari hingar-bingar ini. Saya juga merasa perlu untuk meresonansi semangat saya dengan istri supaya saya tidak merasa sendiri-sendiri amat karena ada rekan seperjalanan yang siap menguatkan saya ketika lelah dan menyemangati saya ketika saya bosan. Perjalanan baru akan dimulai.

Semoga Allah mudahkan urusan ini. Amin. [rbjendelailmu]


Luwuk, Juli 2014 

Kamis, 10 Juli 2014

Kabar Gembira

Saya tidak tahu bagaimana menjuduli tulisan singkat ini.

Beberapa hari yang lalu, saya belanja buku bekas di kaskus. Penjualnya orang Bali, muslim, dan sangat ramah. Ia bertanya, untuk apa buku-buku bekas sebanyak itu saya beli. Saya bilang bahwa buku-buku itu adalah donasi dari teman-teman saya untuk rumah baca yang akan saya kelola. Ia bertanya lagi, apakah ia juga bisa ikut menyumbang buku karena sepertinya ada beberapa koleksinya yang ingin dia lungsurkan ke orang lain tapi dia bingung mau menyalurkan kemana. Tawaran yang tidak bisa ditolak, pikir saya.

Maka jadilah obrolan yang harusnya berkisar soal harga buku dan besaran ongkos kirim yang harus saya bayar jadi menukik ke soal rumah baca dan juga perihal teknis penyaluran buku-bukunya yang ingin disumbangkan kepada saya. Saya mengucapkan terima kasih atas niat baiknya dan berjanji untuk saling menghubungi suatu hari nanti ketika ia sudah pulang ke rumahnya di Bali.

Selain kabar gembira dari Bali, saya juga mendapat kabar gembira lainnya dari dua orang kakak kelas yang bersedia membantu project pengiriman buku-buku yang sudah menumpuk di Jurangmangu agar bisa segera dikirim ke Luwuk serta dari seorang kenalan di sebuah Bank Swasta di Luwuk yang siap membantu untuk mewujudkan ide rumah baca yang sedang saya gagas melalui program CSR yang ada di kantornya.

Rentetan peristiwa yang menggembirakan diatas menjadi semacam oase kesejukan di tengah hingar-bingar situasi politik tanah air yang makin hari makin menghangat, bahkan memanas di beberapa titik. Oleh karenanya saya mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada semua pihak yang turut membantu mewujudkan usaha kecil ini. Tak ada yang bisa saya ungkapkan selain selaksa doa: semoga Allah membalas kebaikan yang telah Anda lakukan dengan sebaik-baik balasan. Aamiin.

Selamat menunaikan ibadah puasa.

Cara Sederhana Merancang Perpustakaan Pribadi

Pada awalnya, kami secara rutin seminggu sekali mengunjungi Public Library di Kota Wollongong, yang hanya berjarak tempuh sekitar 10 menit berkendaraan. Gedung yang ditata secara apik dan suasana yang sangat tenang, tentunya merupakan “Taman Firdaus” bagi yang hobi baca. Di rumah kami ada 6 orang, yaitu saya dan istri dan putri kami bersama suami dan putra putrinya. Maka kami bergantian ke Perpustakaan, untuk melepaskan dahaga baca, karena semua, termasuk kedua cucu hobi membaca.

Tapi kemudian, kami mulai berpikir, membaca di perpustakaan memang menyenangkan dan gratis. Kalau mau menikmati bacaan sambil minum secangkir capucinno atau soft drink, tinggal melangkah sekitar 20 meteran, karena disana ada kantin yang stand by dari pagi hingga menjelang sore. Tetapi kami tidak bisa berlama lama, karena parkir mobil, sejam 4 dollar. Dan membaca buku, tentunya tidak cukup dalam satu jam. Maka minimal pengeluaran untuk parkir kami 8 dollar perkendaraan dikali 2 = 16 dollar perminggu, plus sekitar 20 dollar untuk cappuccino/softdrink dan makanan kecil.

Ada juga jalan lain, yakni buku buku dipinjam dan dibawa pulang untuk dibaca. Ternyata hal ini juga tidak efektif, karena cukup banyak buku yang judulnya sangat menarik, tapi setelah membaca halaman pertama kita sudah tidak ingin melanjutkan lagi untuk membacanya..Karena apa yang ditulis, tidak sesuai dengan selera kita.

Belum lagi waktu yang harus kami sediakan untuk ke sana minimal 2 jam per kunjungan. Maka kami sepakat untuk merancang perpustakan pribadi di rumah. Sehingga kami bisa menghindari: pemborosan uang untuk bayar parkir dan sekaligus waktu yang harus disediakan secara khusus. Dan kami akan bisa membaca dengan menyesuaikan waktu waktu luang.

Mengunjungi Pameran Buku Murah

Kami mengunjungi pameran buku murah yang digelar secara berkala di Unandera, sekitar 20 menit jarak tempuh dengan kendaraan dari kediaman kami di Mount Saint Thomas. Ada ribuan buku yang di pajang untuk dijual. Yang dalam waktu kurang dari 2 jam sudah habis terjual.

Di Indonesia, juga sering di adakan Pasar Buku Murah oleh PT Gramedia. Saya pernah mengunjungi sekali di Gedung Gramedia di Jl.Palmerah Selatan Jakarta. Dimana harga buku berkisar antara 10 ribuan per satu eksemplar. Semua buku yang dijual masih baru, hanya saja sudah cetakan yang agak lama. Tidak ada masalah sama sekali. Buku yang dicetak baru atau lama karena bagi orang yang hobbi baca selembar koran bekas tahun lalu juga masih tetap menarik karena belum pernah dibaca.

Beda gaya dengan di Indonesia. Di sini pasar buku murah ini dikemas dalam kantong kain. Tiap calon pembeli boleh memiih buku yang disukai dan kemudian memasukkan kedalam kantong kain yang disediakan, sepenuh mungkin. Pokoknya,satu kantong buku harganya 10 dollar. Kami coba menghitung, bila buku ukuran standar, satu kantong kain bisa muat lebih dari 10 buah buku. Kalau ukuran kecil bisa 15 buah buku. Jadi berarti tiap buku hanya dinilai sebesar 1 dollar.Cukup murah untuk ukuran disini. Karena buku baru disini harga normalnya berkisar sekitar 10 sampai 25 dollar. Hari itu kami membeli masing masing 2 kantong per orang. Sesampainya di rumah kami total ke 12 kantong ini berisi buku sejumlah 141 buah buku.

Membagi Kelompok Bacaan

Kami membagi buku buku ini dengan amat sederhana yakni: Buku anak dan orang dewasa. Buku buku ini dipilah atas: Fiksi – non fiksi – computer. Buku buku yang setiap hari kami baca dipisahkan tersendiri dan ditempatkan di dalam kamar masing masing. Sementara buku buku lain ditata diruang tamu. Dalam kurun waktu 3 tahun jumlah buku yang ada di Perpustakaan Pribadi dikediaman kami sudah meningkat drastis . Yang awalnya hanya 141 buah kini sudah berjumlah 1.227 jilid buku.

Karena jumlahnya sudah lumayan banyak, buku buku tersebut kami pisahkan lagi atas beberapa rak:

Falsafah- Edukasi-traveling – Hobbi (kebun/mincing/masak /dll)- Rohani

Membaca sambil Bersantai Ria

Sejak perpustakaan pribadi terbentuk kami sudah jarang sekali ke perpustakaan umum. Sehingga dengan demikian, kami bisa menikmati bacaan tanpa harus meninggalkan rumah . Dan kalau mau minum,juga nggak usah beli, tinggal dibuat di rumah sendiri.

Kedua cucu kami tidak perlu lagi disuruh membaca, karena mereka sudah sangat senang membaca buku-buku yang sudah kami seleksi khusus bacaan anak. Bahkan teman teman sekolahnya tiap libur datang ke rumah untuk ikut menikmati perpustakaan pribadi ini.

Bisa Diterapkan dalam lingkungan RT di Indonesia.

Untuk menerapkan Perpustakaan Pribadi ini di Indonesia memang tidak semua orang memiliki sarana dan prasarananya. Karena disamping membutuhkan ruangan yang cukup luas juga dana untuk membeli buku buku. Tapi kalau untuk diterapkan dalam lingkungan RT atau kelompok PKK sangat memungkinkan. Diharapkan dengan demikian, anak anak ,memiliki kegiatan yang positif, ketimbang menghabiskan masa kecil mereka hanya dengan main game yang tidak ada manfaatnya sama sekali.

Untuk orang dewasa dan yang sudah pensiun akan menjadi sarana refreshing yang sangat murah dan mudah, serta sangat bermanfaat untuk mengasah otak mencegah kepikunan. Semoga tulisan sederhana ini dapat menginspirasi para penggerak PKK atau Ibu Rumah Tangga untuk merancang perpustakaan pribadi yang sangat bermanfaat untuk tua dan muda.

Nusa Dua-Bali, 27 Pebruari, 2014

Sumber: Kompasiana

Senin, 07 Juli 2014

Grab a Book and Hit the Couch at the Reading Room in Jakarta

As the sun sets and the sky darkens, the cafe/library/bookshop Reading Room on Jalan Kemang Timur comes to life.

The Reading Room is a new establishment in South Jakarta created by book-lover and writer Richard Oh, who is best known for opening QB World Books.

At the Reading Room, people either read or work, without being judged for having their eyes glued to a book or their faces bathed in the glow of a laptop screen for hours on end.

The warm ambience continues in the lounge corner on the second floor, where a book reading event took place on Thursday night. Author Maggie Tiojakin met with fellow book-lovers to discuss her new book, “Winter Dreams.” Among those in attendance was Andrea Hirata, who penned the wildly popular story “Laskar Pelangi” (“The Rainbow Troops”).

And the week before, the Reading Room started its Sunday Book Club with author Ratih Kumala, who just released a novel, “Gadis Kretek.”

On a good day, the Reading Room may not be able to live up to its name as it becomes too crowded to sit back and read. But on a quiet day — most weekdays, for example — it is a gem in the city.

With stacks of books everywhere, the Reading Room is not your ordinary cafe. Wandering among the thousands of books on the ground and second floors is a great way to pass the time, especially if your other option is sitting in a traffic jam.

Most of the books come with a price tag from QB World Books and range from Rp 50,000 to Rp 150,000 ($5 to $16), but you can read them for free while at the venue. Richard’s extensive personal collection, which includes books on philosophy, classic literature and fiction, is displayed on the second floor but is not for sale.

Richard said that he wanted the Reading Room to be a place that would invite people to come in and settle down with a good read.

In addition to the written word, the Reading Room is also trying to appeal to film-lovers. A screening room, which can accommodate up to 20 people, is tucked away near the stairs on the second floor.

The Reading Room has already held a few film screenings, the latest one being the Indonesian film “Kebun Binatang” (“Postcards From the Zoo”) by director Edwin. The film was also screened at the Tribeca Film Festival in the United States.

Since its opening last month, the Reading Room has generated some buzz from Richard’s friends on Twitter. It has quickly become the place to be in Jakarta, especially for those who work in the creative industry.

The Reading Room also provides free wifi. The ground floor, painted a soothing lime green, is like a common room for visitors, where people can eat, drink and read books. Make sure you bring identification, as it is required for those who wish to read the books.

The second floor, the walls of which are painted bright yellow, is where the bar, the stage, the lounge and screening room are. Unlike most bars in Jakarta, the second floor is not stacked with bottles of alcohol, but books.

It is a nice reminder that books can put you in a dreamy state of mind similar to that created by wine and liquor, especially in a society where reading books is not very popular.

The best seats are the sofas near the large glass windows on the second floor, where you can get a view of the street. But the sofa in the private collection corner is the quietest spot, and a place where you can see the whole cafe.

Other than books, visitors can also enjoy artworks from the Vivi Yip Art Room, which adorn the walls. If you are an interested in purchasing a piece of art, prices range from Rp 10 million to Rp 18 million.

Reading Room is a creative hub, where you can indulge in art, film and literature all at once. And if that isn’t enough creativity for you, there is a French furniture shop in the building next door.

The Reading Room 
Monday to Thursday 10 a.m. to midnight 
Friday to Sunday 10 a.m. to 2 a.m. 
Jalan Kemang Timur No. 57 A-B, South Jakarta

Sumber: The Jakarta Globe

Koleksi 8 Ribu Buku, Lahirkan Sastrawan Cilik

RUMAH Puisi Taufiq Ismail berada tepat di pinggir jalan raya Padang–Bukittinggi. Meski begitu, tidak mudah mencapai tempat tersebut. Jika tidak benar-benar memperhatikan jalan, salah satu destinasi penting bagi penggemar sastra tersebut bakal terlewati begitu saja.

Untuk menjangkau tempat tersebut, kendaraan harus belok ke jalan menanjak nan curam. ’’Gunakan persneling satu.’’ Begitu rambu yang dipajang di jalan sebelum tanjakan.

Berada di daerah dataran tinggi, kawasan bernama Kanagarian Aie Angek itu terletak di jalan raya Padang Panjang–Bukittinggi Km 6. Di tempat itulah Taufiq meninggalkan warisan terpenting bagi kelangsungan sastra tanah air. Terdapat ribuan buku dan goresan karyanya yang tersusun rapi.

Berada di antara dua gunung membuat lokasi Rumah Puisi memiliki nilai keindahan yang luar biasa. Sejauh mata memandang adalah sawah berjenjang dengan background Gunung Singgalang. Jika sedang beruntung, sang gunung menampilkan kegagahannya tanpa tertutupi sehelai kabut pun.

Di sisi berlawanan tersaji pemandangan jalan berkelok-kelok. Sebagai latar yang menambah kesan surgawi daerah tersebut adalah Gunung Marapi yang berdiri kukuh. Gunung berapi itu masih aktif dan beberapa kali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanis.

Bangunan Rumah Puisi Taufiq Ismail berbentuk segi empat. Berhias kaca tembus pandang di sekelilingnya, ruang itu terlihat luas dan bersih. Di dalamnya terdapat puluhan lemari kayu yang menampung buku-buku berbagai kategori.

Menurut Sillia Wahyulli, manajer Rumah Puisi Taufiq Ismail, koleksi buku di tempat tersebut lebih dari 8 ribu. ’’Ini adalah setengah dari koleksi Pak Taufiq. Setengahnya masih berada di kediaman beliau di Jakarta,’’ katanya.

Rumah Puisi didirikan enam tahun lalu sebagai tempat bagi Taufiq memuseumkan karya-karya dan koleksi bukunya. Tempat tersebut pernah akan disumbangkan ke Habibie Center. Namun, sastrawan yang kini berusia 79 tahun itu memiliki pemikiran lain. Dia menginginkan karya-karyanya kelak tetap diingat sebagai karya sastra di tempat khusus sastra juga.

Setelah hunting lokasi, akhirnya kawasan Aie Angek itu yang dipilih. Mengapa di Sumatera Barat? Hal itu tidak terlepas dari asal sang pujangga yang memang lahir di Tanah Andalas. Bergelar datuk panji alam khalifatullah, ibunda Taufiq berasal dari Pandai Sikek yang dikenal sebagai tempat orang-orang pandai menenun. Daerah tersebut kira-kira setengah jam perjalanan dari Aie Angek.

’’Hunting lokasi ini membutuhkan waktu lama. Sebab, awalnya Bapak ingin di Pandai Sikek, tempat dia berasal. Namun, ternyata di sana tidak cukup representatif. Akhirnya temapt ini yang dipilih,’’ terang Yuli –sapaan akrab Sillia Wahyulli.

Tantangan selanjutnya adalah bagaimana memindahkan koleksi buku-buku dari kediamannya di Jakarta ke tempat tersebut. Atas usul seorang kawan, koleksi Taufiq dikirim dengan menggunakan truk. ’’Karena pakai truk, tidak hanya buku yang dikirim. Lemari-lemarinya juga dikirim,’’ jelas Yuli.

Dibutuhkan belasan truk untuk mengangkut koleksi Taufiq dari Jakarta menyusuri Lampung, Palembang, Jambi, hingga berakhir di Rumah Puisi tersebut. ’’Sebelum buku-buku itu dikirim, Pak Taufiq berpesan kepada sopirnya. Beliau tidak mementingkan buku sampai dengan cepat. Yang terpenting adalah seluruh koleksinya aman,’’ ungkap Yuli.

Pengunjung tidak dikenai biaya alias gratis untuk masuk Rumah Puisi. Begitu masuk, yang tersaji adalah berbagai karya sastrawan ternama. Koleksi Taufiq yang sudah puluhan tahun pun berhias dengan indah dalam pigura di sudut-sudut ruangan.

Salah satunya, karyanya yang fenomenal Dengan Puisi, Aku diletakkan berdampingan dengan terjemahan karya tersebut dalam tiga bahasa yang lain. Yakni, Belanda, Rusia, dan Inggris.

Dengan puisi aku bernyanyi, sampai senja umurku nanti Dengan puisi aku bercinta, berbatas cakrawala Dengan puisi aku mengenang, keabadian yang akan datang Dengan puisi aku menangis, jarum waktu bila kejam meringis Dengan puisi aku mengutuk, nafas zaman yang busuk Dengan puisi aku berdoa, perkenankanlah kiranya (1965, Taufiq Ismail)

Kesohoran Rumah Puisi milik Taufiq Ismail menyebar hingga mancanegara. Khususnya bagi mereka yang memang mengagumi karya sastra. Dalam sebulan, menurut Yuli, ada saja orang yang datang dari luar negeri. Misalnya, Thailand, Malaysia, Jerman, Australia, Iran, Inggris, dan Amerika Serikat (AS). Umumnya mereka datang untuk melakukan penelitian atau meminjam koleksi Taufiq untuk kepentingan tugas.

’’Selama masih dibaca di lokasi, tentu kami tidak keberatan. Tapi, semua koleksi yang ada di sini tidak bisa dipinjam untuk dibawa pulang. Kami khawatir tidak kembali,’’ jelasnya.

Tidak sekadar museum yang menyajikan buku-buku dan karya sastra, tempat tersebut juga menjadi semacam tempat pertemuan guru bahasa dan sastra Indonesia se-Sumatera. Setiap akhir bulan digelar diskusi sastra dengan menghadirkan murid-murid dari beberapa sekolah. Hal itu sejalan dengan tujuan awal Taufiq yang menginginkan anak-anak Indonesia terbiasa dengan sastra. Bahkan, untuk hal tersebut, Taufiq meletakkan hasil penelitiannya dalam media banner besar di ruang diskusi rumah tersebut. Isinya, perbandingan kebiasaan membaca buku sastra anak-anak di beberapa negara.

Dari paparan itu terungkap fakta yang mengejutkan tentang frekuensi membaca buku sastra anak-anak sekolah menengah atas (SMA) di 13 negara sejak 1986 hingga 2008. Siswa SMA di Thailand Selatan, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam, misalnya, wajib membaca lima hingga tujuh buku dalam rentang waktu 1–3 tahun.

Sementara itu, siswa SMA di Rusia, Kanada, Jepang, Swiss, dan Jerman wajib membaca 12–22 buku dalam kurun yang sama. Siswa SMA di Prancis, Belanda, dan AS bahkan diwajibkan untuk membaca minimal 30 buku dalam waktu 2–3 tahun.

Sedangkan siswa SMA di Indonesia hanya membaca 25 buku pada periode 1929–1942. Itu masih lebih baik daripada kondisi sekarang. Menurut hasil penelitian antara 1943 hingga 2008, siswa SMA Indonesia hanya membaca nol buku.

Sekali dalam sepekan diadakan latihan menulis sastra. Itu dikhususkan untuk anak-anak belia. Hasilnya luar biasa. Beberapa anak mampu melahirkan buku sendiri di usia mereka yang belum genap 15 tahun.

Selain bangunan utama, di kawasan 2 hektare itu juga berdiri dua rumah yang lain. Namanya, Rumah Pantun dan Rumah Gurindam. Rumah-rumah tersebut setiap harinya disewakan untuk tempat beristirahat. Dua rumah itu masing-masing memiliki dua dan empat kamar. ’’Ini kan sekarang termasuk lokasi wisata. Jadi ada saja yang memang menyewa untuk menghabiskan waktu bersama keluarga,’’ kata Yuli.

Nanti pendapatan dari persewaan kamar itu digunakan untuk membiayai pengoperasian Rumah Puisi. Misalnya, untuk membayar air, listrik, dan maintenance yanglain. ’’Pak Taufiq mewanti-wanti, segala kegiatan di Rumah Puisi harus digratiskan. Beliau menganggap ini adalah warisan yang harus dinikmati banyak pihak,’’ jelas dia. (Panji Dwi Anggara/c4/ca)

Sumber: Jawa Pos