Selasa, 19 Agustus 2014

Kronik 19 Agustus 2014: Pertemuan Dengan Bapak Herwin Yatim, Wakil Bupati Kabupaten Banggai

Hari yang luar biasa! Saya mengalami kesulitan yang cukup terasa untuk menggambarkan situasi yang berlangsung sepanjang hari ini mulai dari pagi sampai saat saya menuliskan catatan ini. Semuanya terjadi begitu cepat, begitu bertubi-tubi, dan karenanya membuat saya perlu sedikit menghela nafas dan meregangkan sedikit otot yang kaku agar saya bisa menghadapi rentetan peristiwa ini dengan persiapan yang cukup. Meski saya tahu itu tidak akan pernah cukup! Apa yang terjadi gerangan? Saya harap Anda bersabar dan sudi meluangkan waktu sejenak untuk menyimak kronik berikut.

Malam ini saya begitu bersemangat untuk mengkronik peristiwa yang berlangsung seharian ini. Saya masih ingat betul detil situasinya dan berharap supaya catatan ini bisa merangkum semua kejadian itu dalam cara yang tidak terlalu bertele-tele. Ditemani nyaringnya suara jangkrik yang memenuhi semak-semak di depan rumah, hembusan angin dingin dari atas bukit, dan suara mobil yang mondar-mandir di depan rumah, catatan ini saya tulis dengan begitu bersemangat.

Kemarin (18/8) saya mendapatkan kabar gembira dari teman-teman di STAN 2003: bantuan berupa dana dari mereka sudah cair. Sebuah pesan dari Feni (Rinawati) dan mas Nanang (Yusuf Mustafit) sudah membuat hati saya girang bukan kepalang. Cairnya bantuan yang jumlahnya cukup signifikan itu artinya ada dana yang bisa digunakan untuk menebus beberapa buku yang sudah diincar sekaligus mengirim satu dua paket buku yang masih tertahan di Jurangmangu. Kepada teman-teman di STAN 2003 saya mengucapkan terima kasih, terutama kepada mas Nanang yang sering saya ‘teror’ perihal progres proposal tersebut. Alhamdulillah, di sela-sela kesibukannya, kedua teman saya itu sudah memberikan kemudahan bagi rumah baca ini.

Setelah kabar gembira dari STAN 2003, ada satu kabar jackpot yang datang kepada saya. Pagi ini (19/8), saya sedang menyicil pekerjaan di kantor saat sebuah telepon, telepon yang paling saya tunggu-tunggu sejak beberapa hari belakangan, dari pak Hertasning Yatim. Pertemuan saya dengan beliau sempat saya singgung sedikit pada tulisan ini dan sebenarnya saya baru saja hendak menuliskan hasil pertemuan saya dengan beliau beberapa malam yang lalu di blog ini. Namun telepon beliau tadi pagi mengurungkan niat saya untuk memposting tulisan yang sudah disiapkan itu. Kenapa? Karena pagi ini saya hendak bertemu dengan Wakil Bupati Kabupaten Banggai, bapak Ir. H. Herwin Yatim M.M. yang juga kakak kandung dari pak Hertasning.

“Pak Wahid hari ini sedang tidak sibuk? Kalau tidak, mari kita ke (Bukit) Halimun (kantor wakil bupati) sekarang,” ujar pak Her, demikian saya biasa memanggil beliau, dengan tempo cepat.

Terkesiap menerima telepon yang begitu mendadak, meski sudah saya tunggu-tunggu sejak beberapa hari belakangan, saya langsung panik. Proposal tertinggal di rumah. Beruntung printer pribadi saya tidak saya bawa pulang dan masih ada di meja saya. Saya lalu berkata kepada pak Her bahwa beri saya waktu 10 menit dan setelah itu saya akan segera menjemput beliau agar bisa pergi ke Halimun bersama-sama.

Singkat cerita, saya dan pak Her akhirnya sampai di Halimun. Sepanjang perjalanan, kami berbincang tentang banyak hal, utamanya soal bahan pembicaraan yang nanti akan kami bahas saat bertemu dengan pak Herwin. Sesampainya di pelataran parkir kantor bupati di Bukit Halimun, saya dan pak Her turun dan langsung menuju ke lantai dua. Kalau diingat-ingat, kali terakhir saya datang ke kantor bupati ini adalah sekitar tahun 2008 atau 2009 yang lalu saat ada acara sosialisasi pajak untuk PNS Pemda Kabupaten Banggai. Setelah diangkat sebagai pemeriksa, saya sudah tidak pernah menginjakkan kaki di kantor ini lagi.

Saya dan pak Her sudah sampai di lantai dua. Seorang lelaki berbadan tegap menyambut kami berdua, sepertinya ia adalah ajudan sang wakil bupati, dan menyilakan kami masuk ke sebuah ruangan kecil, semacam ruang tunggu, yang sudah disesaki banyak orang. Ada beberapa wajah familiar yang saya temui di ruangan yang penuh sesak dengan asap tembakau itu. Ruangan yang agak temaram dan pengap itu dipenuhi sekitar sembilan orang. Salah satunya yang duduk di dekat pintu masuk ke ruangan wakil bupati dan kerap keluar masuk saat bel yang tertempel di tembok berbunyi, sepertinya adalah ajudan bupati lainnya. Saya tidak tahu dan tidak bertanya. Di ruangan itu saya dan pak Her lebih banyak diam. Syahrain Sibay, sang direktur PDAM, yang sedang duduk di sofa di seberang saya dan sepertinya juga menunggu giliran untuk menemui pak Herwin, mengajak kami semua bercerita tentang dunia pendidikan dan beasiswa. Kami tidak berbincang soal motivasi kedatangan kami ke tempat itu dan saya lebih suka seperti itu.

Setelah sekitar lima belas atau dua puluh menit menunggu, akhirnya tiba giliran saya dan pak Her masuk. Bersamaan dengan kami, sang direktur PDAM yang meminta giliran lebih dulu. Saya dan pak Her memenuhi permintaannya karena sepertinya beliau yang lebih dulu datang ketimbang kami berdua.

Ruangan yang kami masuki sangat luas, cerah, sejuk, dan udaranya segar. Kontras sekali dengan suasana di ruang tunggu yang temaram dan pengap. Tirai berwarna krem lembut, sofa yang empuk, lemari berisi buku-buku dan berkas penting, serta alunan murattal Syaikh Sudais bervolume rendah, menjadi suasana yang menenangkan. Saya, jujur saja, sangat tegang. Ini adalah kesempatan kali pertama saya untuk bertemu dan berbicara secara langsung dengan wakil bupati. Saat menanti giliran kami, saya dan pak Her berbincang dengan suara perlahan. Sesekali saya melirik ke arah meja pak wakil bupati yang dipenuhi dengan tumpukan berkas aneka rupa dan buku-buku yang saya tidak tahu apa judulnya. Pak Herwin pagi itu mengenakan seragam berwarna khaki, tampak muda, segar, sehat, dan mengenakan kacamata baca yang cocok dengan bentuk rahangnya yang kokoh. Ia tahun ini akan berusia 48 tahun. Usia yang masih sangat muda untuk ukuran seorang wakil bupati. Karir politik beliau insya Allah masih sangat panjang, ujar saya kepada pak Her sambil berbisik. Di samping itu, beliau saat ini tengah menempuh studi doktoralnya di Universitas Brawijaya Malang. Jurusan manajemen adalah bidang studi yang diambilnya.

Pak Herwin menyimak perkataan pak direktur PDAM dengan seksama. Terkadang ia memencet-mencet handphonenya dan kembali menyimak, lalu bersandar, memperbaiki letak kacamata bacanya yang melorot, menegakkan sandarannya, dan sesekali memandang ke luar jendela. Cuaca Luwuk pagi itu sangat cerah setelah berhari-hari diguyur hujan yang memuramkan kota kecil ini. Tak sampai lima belas menit, tibalah giliran saya.

Saya dan pak Her beranjak ke dua buah kursi yang berada tepat menghadap mejanya. Saya mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri saya. Pak Her memberi sedikit pengantar tentang diri saya dan kami berbasa-basi sejenak. Yang mengherankan, pak Herwin langsung menebak kalau saya adalah orang pajak. Entah dari nametag yang saya pakai yang selalu diperhatikannya saat saya duduk, atau dari map fungsional pemeriksa yang saya bawa sebagai tempat proposal, beliau bisa tahu tentang pekerjaan saya. Hanya saja saya sempat mengamati pandangan mata beliau yang tampaknya sedang memerhatikan nametag pajak yang terpasang di saku kiri saya.

Singkat cerita, saya lalu menjelaskan maksud kedatangan saya. Saya menjelaskan tentang kisah awal yang melandasi ide rumah baca ini, langkah-langkah apa saja yang sudah saya lakukan, donasi-donasi yang sudah masuk, dan sebagainya dan seterusnya. Beliau menyimak dengan antusias dan sangat mengapresiasi rencana ini. Beliau lalu bertanya, apa yang bisa beliau bantu. Saya berkata bahwa saya berencana membuat semacam seremoni kecil dan sederhana, dan meminta kesediaan beliau untuk meluangkan waktu demi meresmikan rumah baca ini. Beliau ternyata sangat menyambut ide itu dan meminta saya untuk memasukkan namanya ke dalam struktur pengurus rumah baca.

“Saya insya Allah siap jadi Dewan Pembina” ujarnya dengan mantap.

Beliau juga meminta saya untuk membuat konsep undangan dimana beliau tinggal menandatanganinya saja. Pada intinya, pak Herwin siap datang ke BTN Muspratama untuk meresmikan rumah baca ini dan tanggal yang ditentukan adalah Selasa pagi, tanggal 2 September 2014. Kami sengaja memilih hari kerja agar undangan yang hadir bisa dimaksimalkan.

“Tulis di undangan itu ‘Mengetahui Wakil Bupati’ supaya lebih mantap” katanya menginstruksikan saya. Saya mengangguk mantap dan berkata siap. Beliau juga menyebutkan pihak-pihak yang sebaiknya diundang: Muspida, Kepala Dinas, Camat, Lurah, Bank-bank, JOB Pertamina, dan lain-lain. Saya mencatat nama-nama itu dan melirik ke arah pak Her untuk membantu saya mengingatkan.

Sebelum pulang, beliau juga meminta saya untuk membuat sketsa lemari buku, karena beliau juga ingin menyumbangkan lemari buku.

“Pak Wahid buat saja desain lemarinya, nanti serahkan ke saya, supaya saya bisa minta tukang buat lemari untuk buatkan” pintanya sambil tersenyum.

Tidak selesai sampai di situ, beliau juga menitipkan sejumlah uang untuk digunakan dalam seremonial peresmian itu.

“Ini dana tidak seberapa, untuk beli kue di acara launching nanti,” ujarnya sambil menerima sebuah map berisi amplop putih dan mengangsurkannya kepada saya.

Sepulang dari kantor wakil bupati, kepala saya tiba-tiba saja disesaki dengan beragam rencana. Pak Her memberikan saran dan masukan yang sangat berharga bagi saya. Saat kami berpisah di depan alun-alun Bumi Mutiara, pak Her mengingatkan saya untuk berkoordinasi terus agar tidak terlupa. Saya mengucapkan terima kasih berkali-kali kepada pak Her atas budi baiknya hari itu.

Oh iya, ngomong-ngomong soal pak Her dan pak Herwin, kedua kakak beradik itu memang punya relasi yang unik. Pak Hertasning adalah mantan anggota legislatif DPRD Kabupaten Banggai tahun 2009-2014 dari PKS, sementara pak Herwin adalah ketua DPC PDIP Kabupaten Banggai. Kedua kakak beradik politisi yang berbeda ‘jalur’ ini selalu menghadirkan kisah tersendiri dalam interaksi mereka yang unik. Sepanjang perjalanan pulang dari Bukit Halimun ke alun-alun, saya kerap bertanya tentang pola interaksi beliau berdua selama ini, ditambah lagi dengan status sang kakak yang saat ini sebagai wakil bupati.

Pertemuan dengan pak Herwin ini saya sampaikan kepada bapak-bapak usai shalat maghrib di masjid Musprataman. Sayang, mati lampu yang terjadi sekitar pukul 18.45 membuat obrolan kami terhenti. Saya sudah menyampaikan hasil pertemuan saya tadi pagi sekaligus rencana-rencana yang perlu warga BTN Muspratama lakukan agar acara launching itu bisa berjalan sukses. Pak Peki mengusulkan supaya hal ini dibahas saat pertemuan yasinan bapak-bapak malam sabtu besok. Saya setuju.

Kronik ini sebenarnya tidak seperti ini. Saya akui, tulisan ini sangat jelek. Rentetan kejadian yang terjadi seharian penuh ini membuat saya kebingungan untuk memilah dan memilih hal-hal apa saja yang ingin saya tulis. Semoga di kesempatan lain tulisan ini bisa sedikit diperkaya dengan aspek detail lainnya, termasuk soal luapan emosi saya yang nyaris tak terkontrol saat membahas rencana-rencana pembukaan itu dengan istri saya.

Terima kasih kepada pak Herwin Yatim, selaku Wakil Bupati Kabupaten Banggai, atas keramahannya. Terima kasih juga kepada pak Hertasning Yatim yang sudah repot-repot mengantarkan saya menemui sang kakak di sela-sela kesibukannya. Sayang sekali, pertemuan tadi pagi tidak sempat diabadikan. Saya juga hendak mengucapkan terima kasih kepada STAN 2003 atas bantuannya. Tak lupa kepada mas Wahyu, seorang teman di FB yang bekerja di site DSLNG di Batui, yang sudah mendonasikan sejumlah dana kepada Rumah Baca Jendela Ilmu. Sayang kontrak beliau akan segera berakhir tahun ini dan karenanya akan meninggalkan Luwuk dalam waktu dekat. Namun beliau tetap menanti perkembangan rumah baca ini melalui kabar-kabar di linimasa saya.

Saya ingin mengucapkan terima kasih pula kepada para tetangga dan jamaah masjid Ar Rahman BTN Muspratama yang siap memback-up acara launching rumah baca ini. Semoga kita bisa jadi tim yang tangguh dan mampu menunjukkan kepada orang banyak bahwa komplek yang mungil ini pun punya potensi yang luar biasa besar. Faito! [rbjendelailmu]


Luwuk, Agustus 2014 

2 komentar:

  1. Sangat suka dengan tulisan ini.
    Semoga lancar acara launching rumah baca-nya.
    Dan akan semakin maju serta semakin lengkap koleksinya.

    BalasHapus
  2. Selamat dan sukses rumah baca jendela ilmu

    BalasHapus