Senin, 14 Juli 2014

Perpustakaan Daerah, Riwayatmu Kini

Apa yang terjadi jika sebuah kota tidak memiliki perpustakaan? Apa yang terjadi saat sebuah kota menelantarkan perpustakaannya dan lebih memilih mengurusi gedung-gedung pemerintahannya yang kerap kali kosong dari aktivitas dan lebih memilih untuk mendirikan bangunan tanpa makna di atas bukit-bukit yang tinggi ketimbang memerhatikan perpustakaan yang berada di ruang tamunya sendiri?

Bagaimana sebuah perpustakaan diisi dan diurus sebenarnya menggambarkan tentang kualitas pemiliknya. Jika perpustakaan itu adalah miliknya pribadi, maka perpustakaan itu menggambarkan tentang kepribadiannya. Begitu juga dengan Perpustakaan Daerah, bagaimana ia diurus dan buku-buku apa saja yang menjadi koleksinya sebenarnya menggambarkan wajah dan level penghargaan daerah itu terhadap kualitas masyarakatnya.

Awal Januari tahun 2014, publik kota Luwuk dibuat terkejut dengan peristiwa kebakaran yang melanda bangunan Perpustakaan dan Arsip Daerah di jalan Urip Sumoharjo. Bangunan yang awalnya merupakan kantor Kecamatan Luwuk itu habis dilahap si jago merah, menyisakan reruntuhan dan puing-puing dari ribuan koleksi buku serta arsip-arsip penting yang menjadi  saksi sejarah perjalanan daerah ini dari masa ke masa. Peristiwa pahit itu seharusnya terekam dengan sangat kuat dalam benak warga kota Luwuk sebagai salah satu hari kelam dalam sejarah pendidikan dan kebudayaan kota ini.

Beberapa bulan selepas kejadian yang memilukan itu, saya mencari-cari lokasi perpustakaan yang baru dan mendapati lantai 1 gedung Badan Perijinan dan Pelayanan Terpadu sebagai destinasi Perpustakaan dan Arsip Daerah yang selanjutnya. Itu artinya, selama tujuh tahun tinggal di Luwuk, saya sudah menyaksikan pemindahan lokasi Perpustakaan Daerah sebanyak tiga kali.

Pemindahan lokasi ke tempat yang baru ini bukan tanpa catatan. Di samping lokasinya yang terlalu riuh dan jauh dari ketenangan, penataan lemari yang terlalu rapat dan ruangan yang terlalu sempit membuat suasana perpustakaan menjadi sesak dan tidak bisa dibilang nyaman. Belum lagi jika bicara tentang koleksi buku-bukunya yang kurang menarik ditambah kegiatan perpustakaan yang cenderung monoton dan kurang inovasi. Keputusan Pemerintah Daerah Kabupaten Banggai menentukan lokasi Perpustakaan dan Arsip Daerah ke lokasi yang terbaru saat ini dan juga kinerja perpustakaan dalam perannya meningkatkan minat baca di masyarakat perlu mendapat sorotan lebih dari orang-orang yang memiliki perhatian terhadap kualitas perpustakaan dan manfaatnya untuk khalayak umum.

Memang, rendahnya minat baca masyarakat di kota ini menjadi salah satu permasalahan yang kerap kali diabaikan. Padahal ia adalah indikator maju dan tidaknya sebuah daerah. Lihat saja perpustakaan-perpustakaan yang tersebar di sekolah-sekolah yang tersebar di daerah ini, kondisinya jauh dari menggembirakan. Itu jika kita baru menyoroti pada perwajahan perpustakaan, belum ke koleksi buku-bukunya dan juga program-programnya.

Ada dua pengabaian yang kerap kali terjadi pada perpustakaan: pengabaian pertama saat koleksi buku yang berlimpah itu hanya dijadikan pajangan di dalam lemari-lemari kaca yang tampak megah tanpa pernah dibaca; pengabaian ke dua adalah saat perpustakaan dianggap sebagai sebuah hal yang tak penting dan karenanya tak perlu diperhatikan. Coba tanyakan kepada warga di kota Luwuk ini, berapa di antara mereka yang sudah tahu bahwa lokasi Perpustakaan dan Arsip Daerah yang terbaru saat ini ‘baku tindis’ dengan bangunan BPPT? Saya sendiri baru ngeh dengan lokasi Perpustakaan bulan Mei kemarin, setelah melakukan pencarian yang cukup masif dengan bertanya ke sana dan ke sini.

Menciptakan perpustakaan yang memiliki daya tarik adalah pekerjaan rumah kita bersama yang menghendaki masa depan daerah ini berjalan ke arah yang lebih cerah. Pemerintah Daerah tentu harus punya itikad baik yang kuat agar aset daerah yang berharga tersebut tidak dilupakan oleh generasi penerusnya hanya karena pengabaian dan sikap acuh tak acuh dari orang-orang yang telah diamanahi untuk menjaganya. Ungkapan salah seorang pejabat tinggi di daerah ini yang mengatakan bahwa “Perpustakaan sekarang tidak laku-laku” seharusnya menyadarkan kita tentang posisi kritis yang sedang dialami oleh Perpustakaan Daerah ini.

Sebagai penutup, saya hendak mengutip ucapan seorang sastrawan besar Argentina bernama Jose Luis Borges yang berkata bahwa, “I have always imagined that Paradise will be a kind of library”, aku selalu membayangkan bahwa surga itu seperti sebuah perpustakaan. Pertanyaannya adalah, sudahkah Perpustakaan Daerah ini menjadi surga bagi para pegawai dan pengunjungnya? Saya tidak tahu. Anda mungkin bisa menjawabnya.


Tulisan ini dimuat di Harian Luwuk Post Edisi Selasa 1 Juli 2014 dengan judul yang sama.
Sumber: wahidnugroho.com

0 komentar:

Posting Komentar